Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Investasi Nikel Tembus Rp185,2 Triliun, Pengamat: Terlalu Fokus Bisa Bikin Ekonomi Jeblok

Investasi Nikel Tembus Rp185,2 Triliun, Pengamat: Terlalu Fokus Bisa Bikin Ekonomi Jeblok Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indonesia kian mengukuhkan posisinya sebagai raja nikel dunia. Sepanjang tahun 2025, sektor hilirisasi mineral mencatatkan realisasi investasi fantastis sebesar Rp373,1 triliun. Dari angka tersebut, nikel menjadi "primadona" tunggal dengan kontribusi mencapai Rp185,2 triliun, atau hampir separuh dari total investasi mineral nasional.

Ketergantungan yang teramat tinggi pada satu komoditas ini memicu alarm kewaspadaan dari para pengamat ekonomi. Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch (ISEW), Ferdy Hasiman, menilai bahwa struktur investasi yang terlalu "nikel-sentris" membuat ekonomi Indonesia berada dalam posisi rentan.

Baca Juga: Dorong Keterlibatan Perusahaan Lokal, Transisi Bersih Paparkan Prinsip-Prinsip Agar Hilirisasi Nikel Tingkatkan Manfaat Ekonomi Nasional

"Yang merisaukan adalah dominasi nikel yang terlalu besar. Kalau harganya turun, ekonomi kita bisa terjungkal. Struktur hilirisasi kita saat ini terlalu rapuh karena sangat bergantung pada satu komoditas ini," ujar Ferdy kepada Warta Ekonomi, Sabtu (17/1/2026).

Data USGS 2024 mencatat Indonesia memegang 42,3% cadangan nikel global (sekitar 55 juta ton metrik). Kekayaan ini memang menjadi daya tarik utama, namun Ferdy menilai model investasi yang masuk saat ini masih bersifat padat modal (capital intensive), bukan padat karya (labor intensive).

Masalah lain yang muncul adalah rendahnya multiplier effect bagi tenaga kerja lokal. Investasi di kawasan industri besar seperti IMIP seringkali membawa teknologi tinggi yang sudah terintegrasi dengan tenaga kerja asing.

"Hilirisasi ini padat modal, kebutuhan tenaga kerjanya sedikit. Bahkan banyak proyek yang membawa tenaga kerja sendiri dari luar. Jika pemerintah tidak mendesain industri lanjutan seperti pabrik baja tahan karat (stainless steel) hingga industri peralatan rumah tangga di dalam negeri, serapan kerja kita akan tetap rendah meskipun investasi tinggi," tambah Ferdy.

Ketimpangan ini juga tercermin dari komposisi modal. Data Kementerian Investasi/BKPM menunjukkan:

  • Penanaman Modal Asing (PMA): Rp308,8 triliun (83%)
  • Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN): Rp62,3 triliun (17%)

Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, mengakui bahwa tingginya porsi asing disebabkan oleh kebutuhan modal jumbo dan teknologi modern yang belum sepenuhnya dikuasai domestik.

Realisasi investasi hilirisasi mineral sepanjang tahun 2025 menunjukkan dominasi nikel yang tak tergoyahkan dengan capaian sebesar Rp185,2 triliun. Angka tersebut jauh melampaui komoditas lainnya, di mana tembaga berada di posisi kedua dengan nilai Rp65,8 triliun, disusul oleh bauksit sebesar Rp53,1 triliun. Sementara itu, sektor besi baja mencatatkan investasi senilai Rp39,2 triliun, dan posisi terakhir ditempati oleh timah dengan realisasi sebesar Rp11,3 triliun.

Baca Juga: Bittime Perkuat Akses Investor Pemula, Tawarkan Bonus dan Launchpool $LIT

Pemerintah kini mulai memperketat aturan. Insentif hanya akan diberikan kepada investor yang berkomitmen melakukan transfer teknologi dan riset (R&D) di Indonesia. Kabar baiknya, Rosan menyebut sudah ada perusahaan asal China yang mulai memindahkan pusat R&D dan hak patennya ke tanah air.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Aldi Ginastiar

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: