Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Goldman Turunkan Peringkat Saham Indonesia, IHSG Makin Tertekan!

Goldman Turunkan Peringkat Saham Indonesia, IHSG Makin Tertekan! Kredit Foto: Reuters
Warta Ekonomi, Jakarta -

Tekanan terhadap pasar saham Indonesia terus berlanjut setelah bank investasi global Goldman Sachs resmi menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight.

Langkah ini menyusul sorotan dari penyedia indeks MSCI terkait risiko investabilitas di pasar modal domestik, yang dinilai berpotensi memperpanjang tekanan jual, terutama dari kalangan investor pasif.

"Kami memperkirakan aksi jual pasif masih akan berlanjut dan perkembangan ini menjadi hambatan bagi pergerakan pasar," tulis Goldman Sachs dalam risetnya.

Dampak sentimen tersebut langsung terasa di lantai bursa. IHSG berdarah-darah saat pembukaan perdagangan Kamis, 29 Januari 2026, dengan pelemahan lebih dari 3% ke level 8.027,82.

Baca Juga: IHSG Pagi Hari Ini Kamis (29/1) Terjun Bebas ke Level 7.000-an

Tekanan jual kemudian semakin dalam hingga indeks terperosok 8% atau anjlok 665,89 poin ke posisi 7.654,66. Kondisi itu memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan pembekuan perdagangan sementara atau trading halt pada pukul 09:26:01 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS) hingga pukul 09:56:01 JATS.

Tekanan terjadi hampir merata di pasar, tercermin dari 658 saham yang melemah, hanya 33 saham menguat, dan 20 saham stagnan.

Dalam laporan terbarunya, Goldman Sachs memperkirakan potensi arus keluar dana yang tidak kecil jika status pasar Indonesia turun dari emerging market menjadi frontier market.

Total potensi outflow diperkirakan melampaui US$13 miliar, yang berasal dari penjualan sekitar US$7,8 miliar oleh fund berbasis indeks MSCI, serta tambahan arus keluar US$5,6 miliar apabila FTSE Russell ikut meninjau ulang metodologi free float.

Risiko penurunan status ini dinilai dapat mendorong investor jangka panjang melakukan rebalancing portofolio, sekaligus memicu arus spekulatif dari hedge fund.

Baca Juga: IHSG Jatuh Lebih 7%, Peluang Rebound Masih Ada

Sebelumnya, MSCI menyoroti transparansi data kepemilikan saham dan aspek investabilitas pasar Indonesia. Hal tersebut dilakukan setelah MSCI merampungkan konsultasi terkait penilaian free float saham domestik.

Dalam konsultasi itu, sebagian pelaku pasar global mendukung penggunaan laporan Monthly Holding Composition dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai referensi tambahan.

Namun, mayoritas investor justru menyoroti kekhawatiran serius terhadap klasifikasi pemegang saham dalam data KSEI, yang dinilai berpotensi menimbulkan bias dalam penilaian kepemilikan.

Meski BEI telah melakukan perbaikan minor pada data free float, investor menilai persoalan mendasar tersebut belum sepenuhnya terselesaikan.

Sebagai langkah mitigasi risiko, MSCI membekukan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan saham-saham Indonesia. Kebijakan ini ditujukan untuk menekan risiko turnover indeks sekaligus menjaga aspek investability.

Jika ke depan tidak ada kemajuan signifikan, status aksesibilitas pasar Indonesia akan kembali ditinjau, bahkan berpotensi berdampak pada penurunan bobot saham Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets hingga peluang reklasifikasi dari emerging market menjadi frontier market.

Menanggapi hal itu, pemerintah mulai mengambil langkah antisipatif. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah akan segera menggelar pertemuan untuk membahas isu MSCI serta dampaknya terhadap pasar keuangan Indonesia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri

Advertisement

Bagikan Artikel: