Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Investor Bitcoin (BTC) Mesti Waspada Pengangkatan Kevin Warsh, Ini Alasannya

Investor Bitcoin (BTC) Mesti Waspada Pengangkatan Kevin Warsh, Ini Alasannya Kredit Foto: Unsplash/Kanchanara
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengangkatan Eks Anggota Dewan Gubernur Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh sebagai ketua bank sentral dinilai akan menaikkan nilai tukar dolar, namun akan berdampak buruk terhadap harga dari Bitcoin (BTC).

Kemunculan Warsh langsung memicu reaksi pasar, khususnya dalam kalangan investor aset berisiko dan kripto dengan bitcoin yang anjlok hingga menyentuh US$77.000. Ia secara umum dipandang sebagai sosok yang akan menekan ekosistem kripto.

Baca Juga: Katanya Emas Digital, Harga Bitcoin (BTC) Malah Tertinggal Saat Reli Safe-haven Global

“Pasar melihat kebangkitan kembali pengaruhnya sebagai sentimen bearish bagi bitcoin,” kata Pendiri 10x Research, Markus Thielen.

Thielen mengatakan hal itu tidak terlepas dari sikap kepemimpinan dari Warsh. Ia dipandang menaruh perhatian pada disiplin moneter, suku bunga riil tinggi dan pengetatan likuiditas yang membuat kripto lebih dipandang sebagai aset spekulatif ketimbang lindung nilai terhadap pelemahan mata uang.

Profil Warsh saat krisis keuangan global beberapa dekade lalu turut memperkuat kekhawatiran pasar. Saat ekonomi global terancam deflasi, ia tetap fokus pada risiko inflasi.

Pada September 2008, Warsh menyatakan masih belum siap mengesampingkan kekhawatiran inflasi. Tujuh bulan kemudian, ketika inflasi inti hanya 0,8% dan pengangguran mencapai 9%, ia kembali menegaskan kekhawatiran terhadap risiko kenaikan inflasi.

Sejumlah pengamat menilai sikap hawkish tersebut justru memperburuk dampak krisis.

“Pendekatan seperti ini berpotensi menghasilkan pengangguran lebih tinggi, pemulihan lebih lambat, dan risiko deflasi yang lebih besar pada dekade 2010-an,” ujar Thielen.

Pencalonan Warsh juga dinilai ironis karena bertolak belakang dengan agenda reflasi pemerintah yang pro-pertumbuhan dan pro-aset berisiko, ditandai dengan penekanan terhadap pemangkasan suku bunga secara besar-besaran.

Baca Juga: Dibanding Bitcoin (BTC), Tether Nyatanya Lebih Pilih Investasi di Emas

Hingga pemerintah membuat keputusan resmi, rekam jejak hawkishnya diperkirakan akan terus menekan aset berisiko, sekaligus menopang penguatan dolar dalam jangka pendek.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Bagikan Artikel: