Kredit Foto: Youtube
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa agar mampu menyerap tenaga kerja baru yang masuk usia produktif, pertumbuhan ekonomi Indonesia harus mencapai 6% hingga 7%. Dirinya menilai ekonomi nasional yang kini tumbuh dalam kisaran 5% belum maksimal untuk penciptaan lapangan kerja baru.
"Indonesia sudah lama tumbuh di kisaran 5 persen itu kayanya bagus, sebagian orang bilang itu sudah maksimal. Padahal menurut saya kita paling enggak harus tumbuh 6,7 persen menuju 7 persen untuk menyerap tenaga kerja baru yang memasuki usia kerja," tutur Purbaya, dikutip Senin (16/2).
Menurutnya, jika Indonesia ingin mengubah statusnya dari negara berkembang ke negara maju, maka perlu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. "Lihat Korea, Taiwan, Jepang, Amerika, Jerman, China. Untuk menjadi negara maju, anda harus tumbuh double digit dalam lebih dari 10 tahun," imbuhnya.
Lebih lanjut, Bendahara Negara ini juga memproyeksikan bahwa fase ekspansi ekonomi akan berlanjut 10 tahun ke depan. Fase ini telah berlangsung sejak 2023 setelah mengalami resesi pada 2020.
Baca Juga: Sebelum Bertemu Trump, Prabowo Panggil Airlangga Hingga Purbaya ke Hambalang
"7 tahun sampai 10 tahun ekspansi, setahun resesi. Resesi kita terakhir tahun 2020. 2023 kita memasuki fase ekspansi lagi, dan kalau kita pintar, kita bisa ekspansi," ucapnya.
Kondisi tersebut akan menjadi peluang lulusan baru untuk memasuki pasar kerja di tengah ekonomi yang berada di tren positif. "Saya pastikan ini [ekspansi] akan berlangsung sampai 2030 nanti dan tentunya kontribusi Anda akan amat signifikan untuk mendukung ekspansi ekonomi Indonesia ini," ujarnya.
Untuk diketahui, pada 2025 pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,11% secara tahunan (yoy), yang merupakan angka tertinggi kedua di antara negara anggota G20 setelah India yang berada di angka 7,4%. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang naik 4,98%, investasi tumbuh 5,09%, dan belanja pemerintah merkote 44,2%.
Berdasarkan data pertumbuhan ekonomi negara anggota G-20 pada kuartal IV-2025, Indonesia berada di angka 5,39% setelah India yang berada di posisi pertama sebesar 7,43%. Selanjutnya disusul oleh Saudi Arabia dengan 4,90%, China 4,50 persen, Spanyol 2,60 persen, dan United States 1,90 persen. Di bawahnya terdapat Belanda 1,80 persen, Korea Selatan 1,50 persen, Eropa sebesar 1,30 persen, Perancis 1,10 persen, serta Jepang 0,80 persen.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: