Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pemerintah Buka Peluang Penurunan Tarif Dagang dengan Amerika Serikat, Tapi Angka Final Belum Ada

Pemerintah Buka Peluang Penurunan Tarif Dagang dengan Amerika Serikat, Tapi Angka Final Belum Ada Kredit Foto: BPMI Setpres
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa posisi tarif dagang dengan Amerika Serikat masih berada di titik yang sama. Hingga kini belum ada keputusan resmi mengenai perubahan angka tarif timbal balik.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pembahasan tarif masih berlangsung dalam jalur negosiasi. Sampai sekarang, belum ada angka resmi yang disepakati kedua pihak.

Ia menegaskan bahwa peluang penurunan tarif tetap terbuka. Namun keputusan akhir tidak berada sepenuhnya di tangan Indonesia.

Menurut Prasetyo, ruang perubahan bisa muncul lewat komunikasi tingkat pemimpin negara. Dialog langsung antar presiden dinilai menjadi kunci perkembangan negosiasi.

Saat ini, tarif yang dikenakan kepada Indonesia masih berada di level 19 persen. Angka tersebut disebut belum mengalami perubahan resmi.

Pemerintah juga belum menyiapkan proposal baru di luar bahan negosiasi awal. Poin-poin yang diajukan selama ini masih menjadi dasar pembahasan.

Meski begitu, dinamika bisa berubah sewaktu-waktu. Pertemuan langsung antar kepala negara dinilai dapat membuka opsi baru.

Presiden Prabowo Subianto diketahui tengah melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat. Lawatan ini membawa sejumlah agenda diplomasi ekonomi dan politik.

Salah satu agenda pentingnya adalah pertemuan dengan kalangan pebisnis AS. Selain itu, Prabowo dijadwalkan hadir di forum Board of Peace terkait isu Gaza.

Baca Juga: Purbaya Bongkar Isi Pertemuan di Hambalang, Bahas Kunjungan Prabowo ke AS

Puncak kunjungan tersebut adalah pertemuan bilateral dengan Presiden Donald Trump. Pertemuan itu juga diarahkan untuk menandatangani perjanjian perdagangan timbal balik yang telah dirundingkan sejak 2025.

Dalam skema kerja sama itu, Indonesia menawarkan pembukaan akses pasar dan pengurangan hambatan non-tarif. Sebagai timbal balik, AS membuka peluang pengecualian tarif untuk produk unggulan Indonesia seperti sawit, kakao, kopi, dan teh.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Bagikan Artikel: