Kredit Foto: Istimewa
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) buka suara mengenai kebutuhan listrik untuk proyek new aluminium smelter milik PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) di Mempawah, Kalimantan Barat.
Kebutuhan listrik proyek tersebut diperkirakan mencapai 1,2 gigawatt (GW). Angka ini hampir dua kali lipat dari total kebutuhan listrik Provinsi Kalimantan Barat saat ini.
Skala tersebut mencerminkan besarnya daya yang dibutuhkan untuk menopang industri peleburan aluminium yang bersifat power intensive.
Keandalan pasokan menjadi faktor krusial. Industri pemurnian aluminium tidak bisa beroperasi secara naik-turun.
Pabrik harus berjalan stabil sepanjang waktu untuk mencapai target produksi 600 ribu ton aluminium per tahun pada 2029. Gangguan pasokan listrik berisiko mengganggu proses produksi dan menimbulkan kerugian besar.
Dalam fase groundbreakingproyek, BPI Danantara menyampaikan bersama MIND ID akan mengajukan Wilayah Usaha (Wilus) di luar PLN. Sementara itu, PT Bukit Asam (PTBA) dipersiapkan untuk menyuplai energi dari pembangkit yang akan dibangun.
Menanggapi hal tersebut, Koordinator Ketenagalistrikan Hilirisasi dan Kawasan Ekonomi Kementerian ESDM, Fadolly Ardin, menyatakan pemerintah tengah mempertimbangkan opsi tersebut bersama alternatif lain.
“Satu opsi adalah memberikan mereka Wilus tersendiri untuk membangun pembangkitnya, nanti mereka yang susun, mereka yang rencanakan, mereka yang bangun. Atau opsi berikutnya adalah kami sedang dalam proses untuk memberikan satu kebijakan baru yang namanya mekanisme fleksibilitas,” ujarnya dalam acara Dekarbonisasi Pembangkit Listrik Captive di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Amry Nur Hidayat