Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.894, Dipicu Penolakan Purbaya Naikkan Pajak Karyawan

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.894, Dipicu Penolakan Purbaya Naikkan Pajak Karyawan Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp16.894 per dolar AS pada perdagangan Kamis (19/2/2026). Mata uang Garuda melemah 10 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp16.884 per dolar AS.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dari faktor domestik dipengaruhi sikap pemerintah yang menolak usulan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) agar Indonesia menaikkan Pajak Penghasilan (PPh) karyawan atau PPh Pasal 21 guna menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Alasan menolak usulan IMF untuk menaikkan pajak karyawan karena defisit APBN pun masih di bawah 3%,” kata Ibrahim kepada wartawan, Kamis (19/2/2026).

Menurut Ibrahim, pemerintah belum akan menaikkan tarif pajak sebelum ekonomi nasional benar-benar kuat. Alih-alih menaikkan tarif PPh karyawan, pemerintah saat ini lebih memfokuskan kebijakan pada perluasan basis pajak serta penutupan kebocoran penerimaan negara.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Rp16.884 per Dolar AS, Terbebani Defisit dan Antisipasi Risalah The Fed

“Selain itu, pemerintah berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi agar penerimaan pajak meningkat secara alami dan defisit anggaran dapat ditekan,” ujarnya.

Dari sisi eksternal, pelemahan rupiah juga dipengaruhi risalah pertemuan kebijakan terbaru bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) yang menyoroti perbedaan pandangan di antara para pejabat mengenai perlunya kenaikan suku bunga lanjutan.

Para pembuat kebijakan The Fed, kata Ibrahim, secara umum sepakat bahwa risiko inflasi masih cenderung meningkat. Namun, terdapat perbedaan pendapat terkait seberapa ketat kebijakan moneter harus diterapkan serta berapa lama suku bunga perlu dipertahankan di level tinggi.

“Para pedagang menurunkan ekspektasi mereka terhadap penurunan suku bunga The Fed tahun ini, meskipun kontrak berjangka dana The Fed masih menunjukkan kemungkinan penurunan pada Juni,” jelasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: