Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Siap Lawan Blokade, Iran Sebut Amerika Serikat Jadi Penyebab Kebuntuan Negosiasi di Pakistan

Siap Lawan Blokade, Iran Sebut Amerika Serikat Jadi Penyebab Kebuntuan Negosiasi di Pakistan Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Iran menegaskan bahwa pihaknya tidak akan takut maupun gentar dengan ancaman blokade dari Amerika Serikat. Sikap Teheran tidak akan berubah terkait konflik di Selat Hormuz, Timur Tengah.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan bahwa ancaman blokade tidak membuat negaranya mengalah ke Amerika Serikat. Menurutnya, pihaknya siap memberikan perlawanan sengit ke Washington.

Baca Juga: Tegaskan Kendali Selat Hormuz, Iran Respons Tegas Wacana Blokade Amerika Serikat

“Jika Anda memutuskan untuk bertarung, kami akan bertarung. Jika Anda datang dengan logika, kami juga akan merespons dengan logika,” ujar Qalibaf.

Qalibaf juga mengkritik sikap dari Amerika Serikat. Menurutnya, Washington adalah penyebab kegagalan negosiasi damai yang dijalankan keduanya di Islamabad, Pakistan.

Menurut Qalibaf, Amerika Serikat telah gagal membangun kepercayaan dalam perundingan kedua negara. Ia menyebut timnya telah menawarkan berbagai inisiatif “berpandangan ke depan”, namun hal tersebut malah direspons dengan agenda berbeda yang menghambat kesepakatan dari Washington.

Pembicaraan Islamabad sendiri merupakan pertemuan langsung pertama dalam lebih dari satu dekade dari Iran dan Amerika Serikat. Ia juga merupakan dialog tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam Iran 1979

Namun, perundingan tersebut gagal menghasilkan kesepakatan konkret untuk mengakhiri konflik. Menurut Washington, Iran menolak sejumlah tuntutan utama antara lain menghentikan seluruh pengayaan uranium, membongkar fasilitas nuklir utama dan menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya.

Amerika Serikat diketahui juga meminta mereka untuk menghentikan dukungan terhadap kelompok seperti Hamas, Hezbollah dan Houthi. Ia juga menuntut adanya pembukaan penuh akses dari Selat Hormuz.

Iran di sisi lain melaporkan tuntutan yang berlebihan dari Amerika Serikat. Hal tersebut menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan. Neberapa isu sebenarnya telah mencapai titik temu, namun dua hal utama masih menjadi ganjalan yakni program nuklir hingga kontrol dan akses dari Selat Hormuz.

Kebuntuan ini terjadi hanya beberapa hari setelah pengumuman gencatan senjata dua pekan, yang kini berada dalam posisi rapuh. Dengan retorika keras dari kedua pihak risiko eskalasi kembali meningkat dan prospek perdamaian jangka panjang masih belum pasti di Timur Tengah.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan bahwa pihaknya akan mulai memblokade wilayah dari Selat Hormuz. Ia menyatakan bahwa pihaknya akan mengambil tindakan terhadap kapal mana pun yang membayar biaya atau “toll” kepada Iran. 

"Saya telah menginstruksikan pasukan untuk mencari dan mencegat setiap kapal yang telah membayar bea masuk kepada Iran. Tidak seorang pun yang membayar bea masuk ilegal akan mendapatkan jalur aman di laut lepas," kata Trump.

Adapun Komando Pusat Militer Amerika Serikat atau U.S. Central Command (CENTCOM) sendiri menegaskan bahwa blokade akan diberlakukan secara menyeluruh dan tanpa pengecualian terhadap kapal dari semua negara. Kebijakan ini merupakan bagian dari langkah lanjutan dalam konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

Washington melalu blokade ini akan melarang aktivitas keluar-masuk untuk kapal-kapal yang akan berlayar maupun bersandar dalam pelabuhan yang dimiliki oleh Iran. Namun, pihaknya juga menegaskan bahwa kebijakan ini tidak akan mengganggu kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Baca Juga: Amerika Serikat Blokade Pelabuhan Iran, Harga Bitcoin Hari Ini (13/4) Turun Lagi

Ia juga mengumumkan bahwa pihaknya mulai melakukan persiapan untuk operasi pembersihan ranjau laut dalam wilayah dari Selat Hormuz. Operasi tersebut melibatkan dua kapal perusak berpeluru kendali milik Angkatan Laut Amerika Serikat. USS Frank E. Peterson (DDG 121) dan USS Michael Murphy (DDG 112) dikerahkan dan dilaporkan telah melintasi wilayah dari Selat Hormuz.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar