Dibongkar Pakistan, Perdamaian Iran dan Amerika Tinggal Hitungan Jam Lagi
Kredit Foto: Istimewa
Harapan berakhirnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin menguat. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengungkapkan bahwa perjanjian damai antara Washington dan Teheran kemungkinan akan difinalisasi dalam waktu 24 jam ke depan.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal paling kuat sejauh ini bahwa kedua negara yang selama puluhan tahun bermusuhan itu kini berada di ambang kesepakatan bersejarah.
Baca Juga: Trump Seperti Trauma Disoraki Suporter Amerika Sampai Absen di Pembuka Laga Piala Dunia 2026
"Kami lebih dekat menuju kesepakatan damai dibandingkan sebelumnya. Finalisasi kemungkinan diharapkan dalam 24 jam ke depan," tulis Shehbaz Sharif melalui akun media sosial X, dikutip Minggu (14/6).
Sharif mengatakan Pakistan telah berperan sebagai mediator penting dalam perundingan antara AS dan Iran. Setelah dokumen diselesaikan, kedua negara disebut akan segera melakukan penandatanganan secara elektronik sebelum melanjutkan pembicaraan di tingkat teknis pada pekan depan.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Amerika Serikat dan Republik Islam Iran atas komitmen mereka selama negosiasi berlangsung. Kami juga mengapresiasi dukungan negara-negara sahabat di kawasan," ujar Sharif.
Ia meyakini perjanjian tersebut dapat menjadi fondasi bagi perdamaian jangka panjang di Timur Tengah.
Pernyataan dari Islamabad sejalan dengan klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut Washington telah mencapai "kesepakatan besar" dengan Iran dan dokumen final tengah dipersiapkan.
Trump mengatakan Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling strategis di dunia, akan kembali dibuka setelah kesepakatan resmi ditandatangani.
"Dokumennya sudah berada dalam tahap akhir dan semuanya harus selesai dengan sangat cepat," kata Trump.
Seorang pejabat senior pemerintahan AS bahkan mengungkapkan kepada Reuters bahwa kedua pihak telah menyepakati draf teks perjanjian dan berharap penandatanganan dapat dilakukan dalam beberapa hari mendatang.
Namun, di tengah optimisme tersebut, Teheran masih menunjukkan sikap hati-hati. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan proses finalisasi masih berlangsung dan belum ada pengumuman resmi mengenai isi perjanjian.
"Kesepakatan belum pernah sedekat ini. Semua detail akan dibagikan kepada publik pada waktunya," kata Araghchi.
Sementara itu, media Iran melaporkan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara kedua negara mencakup 14 poin penting, mulai dari penghentian perang secara permanen, pencabutan blokade angkatan laut AS, penangguhan sanksi minyak Iran, hingga pembukaan kembali Selat Hormuz.
Iran juga menginginkan pencairan dana yang dibekukan senilai US$24 miliar dan program rekonstruksi senilai US$300 miliar untuk memulihkan ekonomi mereka yang terdampak perang.
Selain itu, Teheran menuntut komitmen AS untuk tidak menambah pasukan di kawasan, tidak menjatuhkan sanksi baru, serta tidak mencampuri urusan dalam negeri Iran.
Meski sejumlah isu krusial masih menjadi perdebatan, pengakuan Pakistan bahwa kesepakatan damai berpotensi tercapai dalam hitungan jam menunjukkan bahwa Washington dan Teheran kini berada pada titik paling dekat menuju akhir konflik.
Baca Juga: 'Ada Penelitian dari UI,' Pemerintah Klaim Siswa Lebih Semangat Belajar dan Rajin Sekolah karena MBG
Jika perjanjian benar-benar terwujud dalam 24 jam ke depan, maka kesepakatan tersebut berpotensi mengubah peta keamanan Timur Tengah, membuka kembali jalur perdagangan energi global, sekaligus mengakhiri salah satu konfrontasi paling berbahaya di kawasan dalam beberapa tahun terakhir.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: