Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pertamina Ungkap Alasan Pertamax Naik Setelah Ditahan Tiga Bulan

Pertamina Ungkap Alasan Pertamax Naik Setelah Ditahan Tiga Bulan Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Naiknya harga Pertamax disebut sebagai langkah yang harus ditempuh PT Pertamina Patra Niaga untuk menjaga ketersediaan pasokan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di pasar domestik di tengah meningkatnya biaya impor akibat gejolak global.

VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, mengatakan perusahaan sebelumnya masih mampu menahan kenaikan harga BBM nonsubsidi. Namun, kondisi pasar internasional yang berubah membuat kebijakan tersebut tidak lagi dapat dipertahankan.

“Beberapa waktu kemarin itu masih bisa kami tahan, tetapi kenapa kok hari ini nggak bisa nahan? Karena kami harus memastikan ketersediaan di pasar itu ada barangnya,” ujar Sigit dalam Sarasehan Energi bertajuk “Transisi Energi dalam Memitigasi Konflik Global” di Universitas IPB, Bogor, Jawa Barat, Rabu.

Menurut Sigit, konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran telah mendorong kenaikan harga BBM impor yang dibeli Pertamina. Akibatnya, harga pembelian dari luar negeri tidak lagi sejalan dengan harga jual BBM di dalam negeri.

Pertamina, kata dia, sebenarnya telah menahan penyesuaian harga sejak Maret 2026 hingga awal Juni 2026 sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat. Namun, kebijakan tersebut berdampak pada kemampuan perusahaan dalam mengamankan pasokan BBM dari pasar internasional.

Ia menjelaskan bahwa kenaikan biaya produksi dan pengadaan secara otomatis memengaruhi harga jual produk. Di sisi lain, perusahaan juga harus mempertimbangkan kemampuan masyarakat dalam membeli BBM.

“Kalau biaya produksinya naik, akan berpengaruh ke harga jual produk yang dihasilkan. Berarti harga di pasar akan naik. Masyarakat konsumen bisa membeli, nggak? Tentu berat,” kata Sigit.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa selisih antara harga beli BBM impor dan harga jual di pasar domestik membuat kemampuan Pertamina untuk melakukan impor ikut berkurang.

“Uang yang kami dapat (dari penjualan domestik) untuk membeli BBM di market (impor) tidak lagi mendapatkan volume yang sama,” ujarnya.

Menurut Sigit, kondisi tersebut berisiko mengganggu ketersediaan stok BBM apabila tidak dilakukan penyesuaian harga. Oleh karena itu, setelah berkonsultasi dengan pemerintah, Pertamina memutuskan menaikkan harga BBM nonsubsidi guna memastikan pasokan tetap tersedia.

“Kami ingin memberikan pesan bahwa ini (harga BBM) memang perlu naik karena kondisinya memang harus kami pastikan terkait dengan ketersediaan suplai di market,” katanya.

Baca Juga: BBM RON 92 Indonesia Dinilai Murah Se-Asia Tenggara, Kenaikan Harga Pertamax Disebut Wajar

Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga menetapkan harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026. Harga Pertamax Green 95 (RON 95) juga meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Sementara itu, harga BBM nonsubsidi lainnya seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex tidak mengalami perubahan. Adapun BBM subsidi Pertalite dan Biosolar tetap dipertahankan pada harga sebelumnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: