- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Harga Minyak Dunia Turun Lebih dari 2% Usai Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran
Kredit Foto: SKK Migas
Harga minyak dunia turun lebih dari 2% pada Jumat ini dan memperpanjang pelemahan dari sesi sebelumnya setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran.
Keputusan tersebut meredakan kekhawatiran pasar mengenai potensi eskalasi konflik setelah aksi saling serang yang terjadi pada awal pekan ini.
Mengutip Reuters, kontrak berjangka minyak Brent turun US$2,11 atau 2,3% menjadi US$88,27 per barel pada pukul 06.40 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah US$1,90 atau 2,2% ke level US$85,81 per barel.
Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia, masih menjadi perhatian pelaku pasar. Blokade yang berlangsung selama beberapa bulan oleh Teheran telah menjaga harga energi tetap tinggi.
Media pemerintah Iran melaporkan pada Jumat bahwa pasukan Iran mencegah sebuah kapal tanker melintasi Selat Hormuz tanpa koordinasi. Namun, militer Amerika Serikat menyatakan melalui media sosial bahwa kapal-kapal komersial masih terus melintasi jalur perairan tersebut.
Analis ING mengingatkan bahwa perpanjangan gencatan senjata belum tentu akan berlangsung permanen dan masih berpotensi rapuh. Menurut mereka, apabila perundingan terkait program nuklir tidak mengalami kemajuan, situasi dapat kembali memburuk.
ING juga menilai pasar minyak dapat mencapai titik balik pada akhir Juli apabila arus pasokan minyak belum kembali normal. Dalam kondisi tersebut, persediaan yang menurun dan permintaan musiman yang lebih kuat berpotensi mendorong harga minyak melonjak ke kisaran US$120 hingga US$130 per barel.
Baca Juga: Efek Perang Iran-Amerika, Sejumlah Negara Dibidik Jadi Pemasok Minyak ke Indonesia
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Diprediksi Masih Bergejolak, Indonesia Perlu Waspadai Dampaknya ke Impor Energi
Di sisi lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2026 menjadi 970.000 barel per hari, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 1,17 juta barel per hari. Revisi ini menjadi penurunan proyeksi kedua secara berturut-turut.
Meski demikian, OPEC memperkirakan konsumsi minyak akan kembali menguat pada 2027 dengan menaikkan proyeksi pertumbuhan permintaan menjadi 1,73 juta barel per hari, atau 190.000 barel per hari lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: