Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Harga Minyak Dunia Diprediksi Masih Bergejolak, Indonesia Perlu Waspadai Dampaknya ke Impor Energi

Harga Minyak Dunia Diprediksi Masih Bergejolak, Indonesia Perlu Waspadai Dampaknya ke Impor Energi Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Para peserta Panel Energi yang digelar sebagai bagian dari SPIEF 2026 menyampaikan proyeksi harga minyak untuk tahun mendatang.

Menurut Igor Sechin, CEO Rosneft sekaligus Sekretaris Eksekutif Komisi Kepresidenan untuk Pengembangan Strategis Sektor Bahan Bakar dan Energi serta Keamanan Lingkungan, faktor utama yang akan membentuk dinamika pasar dalam jangka menengah adalah situasi di Selat Hormuz.

Menurutnya, apabila pembatasan terkait konflik dapat dicabut pada akhir 2026, harga rata-rata minyak dapat mencapai US$95–96 per barel.

St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) merupakan salah satu forum ekonomi tahunan utama di Rusia yang mempertemukan pembuat kebijakan, pemimpin bisnis, akademisi, dan tokoh publik untuk membahas isu-isu strategis dalam ekonomi global.

SPIEF 2026 digelar di St. Petersburg pada 3–6 Juni 2026 dan membahas ekonomi global, teknologi masa depan, stabilitas pasar, serta kerja sama internasional.

Rosneft sendiri merupakan salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia. CEO perusahaan itu mengatakan, pemulihan pasokan akan membutuhkan waktu dan investasi yang signifikan.

Dalam kondisi tersebut, harga minyak dalam satu tahun ke depan berpotensi berada di kisaran US$80–85 per barel. Sementara itu, pada paruh kedua 2027, pasar diperkirakan mulai kembali mengacu pada indikator fundamentalnya.

Bagi Indonesia, proyeksi ini menjadi penting karena dinamika harga minyak global dapat berdampak langsung terhadap biaya impor energi, tekanan inflasi, dan ruang fiskal pemerintah.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan nilai impor Indonesia pada 2024 mencapai US$235,2 miliar, termasuk impor minyak dan gas sebesar US$36,3 miliar.

Pada 2025, neraca perdagangan sektor migas Indonesia juga masih mencatat defisit sebesar US$19,7 miliar, sehingga perubahan harga minyak dunia tetap menjadi salah satu faktor eksternal yang relevan bagi stabilitas ekonomi nasional.

Namun, apabila sanksi baru diberlakukan terhadap minyak Rusia, menurut Igor Sechin, “tambahan US$100 akan ditambahkan ke level US$150–160.” Pada saat yang sama, ia meyakini bahwa sanksi tidak akan efektif dalam kondisi apa pun: Rusia akan tetap mempertahankan porsi ekspor yang signifikan, sementara tingkat harga yang lebih tinggi akan mengimbangi potensi penurunan pasokan.

Mantan Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Nobuo Tanaka, pada gilirannya menilai bahwa akibat kekurangan pasokan, harga minyak kemungkinan dapat mencapai US$170 per barel atau bahkan lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang.

"Ini adalah situasi yang sangat, sangat serius. Dan saya percaya Rusia akan menjadi pemain yang sangat penting dalam konteks peningkatan pasokan," ujar Tanaka.

Konteks ini menjadi relevan bagi Indonesia karena pemerintah masih menanggung beban subsidi dan kompensasi energi untuk menjaga daya beli masyarakat.

Per 31 Mei 2026, pemerintah telah menyalurkan Rp203,7 triliun untuk belanja subsidi dan kompensasi, atau 45,6% dari pagu APBN. Karena itu, volatilitas harga minyak global bukan hanya isu pasar energi internasional, tetapi juga terkait langsung dengan kebijakan fiskal, ketahanan energi, dan stabilitas harga domestik di Indonesia.

Menteri Energi Uzbekistan, Jurabek Mirzamakhmudov, tidak menutup kemungkinan harga minyak ke depan dapat kembali ke level US$60 per barel.

Sementara itu, menurut David Gadzhimirzaev, Presiden TOF Group, bank-bank terbesar dunia memperkirakan harga minyak berada di kisaran US$78 hingga US$90 per barel.

Dengan mempertimbangkan berbagai potensi guncangan, proyeksinya berada di kisaran US$60–70 per barel. Ia juga menegaskan bahwa harga minyak sebaiknya tidak turun di bawah US$60 per barel.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat