Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bocoran Senator Amerika, Ini Rencana Trump Jika Negosiasi Gagal Bernegosiasi dengan Iran

Bocoran Senator Amerika, Ini Rencana Trump Jika Negosiasi Gagal Bernegosiasi dengan Iran Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Rencana Amerika Serikat (AS) jika perundingan damai dengan Iran berujung buntu mulai terungkap ke publik. Senator Partai Republik Lindsey Graham membocorkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah menyiapkan skenario tegas, termasuk mengambil alih Selat Hormuz dengan kekuatan militer dan memungut biaya dari setiap kapal yang melintas di jalur strategis tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Graham setelah mengaku menghabiskan waktu sekitar empat setengah jam bersama Trump pada Jumat lalu untuk membahas perkembangan negosiasi dengan Teheran.

Baca Juga: 'Dia Harus Jaga Ucapannya,' Presiden Amerika Ngamuk dan Ancam Ambil Seluruh Wilayah Iran

"Mari kita coba solusi diplomatik. Saya pikir itu akan gagal," kata Graham, dikutip Senin (22/6).

Ia kemudian mengungkap skenario yang menurutnya akan diambil Trump apabila kesepakatan dengan Iran tidak tercapai.

"Jika kesepakatan ini gagal, Trump akan mengambil alih Selat Hormuz dengan kekuatan militer," ujar Graham.

Menurut dia, Amerika tidak hanya akan mengendalikan jalur pelayaran tersebut, tetapi juga mengenakan tarif bagi kapal-kapal yang melintas untuk membiayai operasi pengamanan di kawasan tersebut.

"Amerika Serikat akan mengontrol Selat Hormuz. Kami akan mengenakan biaya bagi semua pihak yang melintas untuk membayar operasi itu, dan kami akan memperluas Abraham Accords pada tahun kalender 2026," tambahnya.

Pernyataan Graham muncul di tengah berlangsungnya putaran pertama pembicaraan antara delegasi AS dan Iran di Swiss. Wakil Presiden AS JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, dan Jared Kushner diketahui terlibat langsung dalam negosiasi tersebut.

Seorang diplomat yang menjadi bagian dari delegasi AS mengatakan perundingan masih terus berlangsung dan belum menemui jalan buntu seperti yang ramai diberitakan.

"Wakil Presiden mendarat sekitar pukul 06.00 pagi ini dan delegasi kami terus melakukan pertemuan serta negosiasi sejak saat itu," katanya.

Ia juga membantah laporan yang menyebut delegasi Iran telah meninggalkan meja perundingan.

"Berlawanan dengan berbagai laporan yang tidak benar, delegasi Iran masih berada di sini dan diskusi masih berlangsung. Kami memperkirakan pembicaraan akan terus berlanjut sepanjang malam," ujarnya.

Menurut diplomat tersebut, salah satu fokus pembahasan adalah mengklarifikasi sikap Iran terkait Selat Hormuz serta membangun mekanisme dekonflik agar jalur pelayaran vital tersebut tetap terbuka.

Selain itu, kedua pihak juga membahas mekanisme pengawasan gencatan senjata di Lebanon selatan dan berbagai aspek teknis terkait perjanjian nuklir Iran.

"Kami telah melakukan pembahasan yang intens mengenai seluruh elemen kesepakatan nuklir dan akan menjadikan hasil pembicaraan hari ini sebagai titik awal bagi perundingan teknis berikutnya," katanya.

Baca Juga: Pemerintah Akhirnya Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut. Karena itu, ancaman pengambilalihan Selat Hormuz oleh Amerika berpotensi memicu ketegangan baru di Timur Tengah dan berdampak langsung terhadap stabilitas pasar energi dunia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar