Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Danantara Bakal Urus Ekspor Listrik 3,4 GW ke Singapura, Indonesia Bisa Dapat Devisa US$6 Miliar per Tahun

Danantara Bakal Urus Ekspor Listrik 3,4 GW ke Singapura, Indonesia Bisa Dapat Devisa US$6 Miliar per Tahun Kredit Foto: Istihanah
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto menunjuk Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk mengawal implementasi kerja sama perdagangan listrik lintas batas antara Indonesia dan Singapura.

Kerja sama perdagangan listrik menjadi salah satu dari 26 capaian yang dihasilkan dalam pertemuan bilateral tersebut, terdiri atas 18 kesepakatan antarpemerintah dan delapan kesepakatan bisnis.

“Indonesia telah menunjuk BPI Danantara untuk implementasi kerja sama perdagangan listrik lintas batas, juga untuk kegiatan-kegiatan di bidang perdagangan,” kata Prabowo, dalam pernyataan bersama Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong usai Leaders’ Retreat di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/7/2026). 

Rencana ekspor listrik ke Singapura mencakup pasokan listrik berbasis energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 3,4 GW. Kapasitas itu meningkat dari pembahasan awal yang hanya mencakup sekitar 2 GW.

Pemerintah Indonesia sebelumnya menetapkan syarat investasi minimum US$10 miliar atau sekitar Rp162 triliun bagi Singapura dalam kerja sama tersebut. Nilai itu belum termasuk investasi untuk pengembangan kawasan industri hijau di Batam, Bintan, dan Karimun (BBK), Kepulauan Riau, serta pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture storage (CCS).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan Indonesia baru bersedia menandatangani nota kesepahaman setelah negosiasi mengenai investasi dan pembangunan kawasan industri hijau mencapai kesepakatan.

“Panjang sekali ceritanya, negosiasi terjadi, maka kita putuskan untuk MoU ditandatangani,” ujar Bahlil usai pertemuan bilateral di Singapura, Senin (16/6/2025).

Menurut Bahlil, ekspor listrik hijau harus memberi nilai tambah bagi Indonesia, tidak hanya memenuhi kebutuhan energi bersih Singapura. Pemerintah memasukkan pengembangan industri manufaktur panel surya, sistem penyimpanan energi baterai atau battery energy storage system (BESS), serta kegiatan operasi dan pemeliharaan pembangkit EBT dalam skema kerja sama.

“Total investasinya minimal dalam perhitungan kami yang kami sudah bangun ini sekitar 10 miliar dolar AS, minus kawasan industri,” tegas Bahlil.

Pemerintah memperkirakan proyek tersebut dapat menambah devisa hingga US$6 miliar per tahun, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan penerimaan pajak. Namun, pemerintah belum merinci jadwal pembangunan, skema penjualan listrik, tarif, maupun pembagian investasi dalam proyek tersebut.

Baca Juga: Singapura Gandeng Indonesia Kembangkan Energi Terbarukan dan Listrik Lintas Batas

Baca Juga: PM Wong Dorong Pertukaran Pelajar Indonesia-Singapura Lewat Program Sekolah Garuda

Baca Juga: Leaders' Retreat 2026 Hasilkan 26 Kesepakatan Indonesia-Singapura

Untuk menyiapkan proyek, Indonesia dan Singapura membentuk Satuan Tugas EBT Lintas Batas yang dipimpin Menteri ESDM dan Menteri Perdagangan dan Industri Singapura. Satgas akan menyusun rancangan teknis, pembiayaan, serta tata kelola kawasan industri hijau.

Bahlil mengatakan daftar calon investor telah disiapkan dan akan diserahkan kepada Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani.

“Calon-calon investornya pun sudah ada sebagian, dan itu adalah saya serahkan kepada nanti Pak Menteri Investasi dan Kepala Danantara,” kata Bahlil.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: