Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Efek Bencana Perang Iran-Amerika, Upaya Pemakzulan Donald Trump Bisa Dimulai di November

Efek Bencana Perang Iran-Amerika, Upaya Pemakzulan Donald Trump Bisa Dimulai di November Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai dipandang bukan hanya sebagai persoalan keamanan internasional, tetapi juga ancaman serius terhadap masa depan politik dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Negeri Paman Sam

Kontributor Fox News, Joe Concha mengatakan ada upaya konflik tersebut untuk diperpanjang hingga mendekati pemilu sela (midterm elections) di Amerika Serikat. Menurutnya, semakin lama perang berlangsung, semakin besar pula tekanan politik yang akan dihadapi Trump di Washington.

Baca Juga: Israel Tiba-tiba Tawarkan Diri Kembali Ikut Perang Iran: Kami Siap Tempur Jika Amerika Meminta

Concha mengatakan musuh diduga berupaya memainkan strategi diplomasi dengan memberikan sinyal yang berbeda dari tindakan di lapangan demi memperpanjang konflik. Jika perang berlangsung hingga memasuki musim pemilu sela, dampaknya diperkirakan dapat mengubah peta kekuatan politik dan membuka peluang munculnya kembali upaya pemakzulan terhadap Trump.

"Semua yang mereka inginkan adalah mencapai November. Mereka tahu ini merugikan presiden secara politik. Mereka ingin memperpanjang situasi ini selama mungkin," kata Concha, dikutip Senin (23/7).

Iran menurutnya kemungkinan akan terus menyampaikan sinyal seolah terbuka terhadap penyelesaian damai, namun mengambil langkah berbeda dalam praktiknya.

"Mereka akan mengatakan satu hal kepada kita, lalu melakukan hal yang lain," ujarnya.

Menurut Concha, apabila konflik berkepanjangan memengaruhi persepsi publik terhadap pemerintahan saat ini, oposisi berpeluang merebut kembali mayoritas kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) dalam pemilu sela. Sementara Partai Republik diperkirakan masih mampu mempertahankan kendali di Senat.

Konstelasi tersebut dinilai akan menciptakan pemerintahan yang terbelah (divided government), di mana presiden tetap menjabat tetapi menghadapi tekanan politik yang jauh lebih besar dari DPR.

Concha memperkirakan dewan yang dipimpin oposisi akan kembali menghidupkan berbagai upaya pemakzulan terhadap Trump.

"Mereka akan memakzulkan presiden terus-menerus, dan mereka juga tidak akan terlihat baik karena tidak menyelesaikan persoalan, melainkan hanya menyelesaikan dendam politik," kata Concha.

Ia menyebut kondisi tersebut berpotensi membuat pemerintahan berjalan dalam situasi yang penuh kebuntuan politik.

"Jadi Anda akan memiliki pemerintahan yang terbelah pada titik itu," tambahnya.

Adapun Pernyataan Concha merupakan analisis politik, bukan sikap resmi pemerintah maupun hasil kepastian politik yang akan terjadi. Hingga saat ini belum ada bukti bahwa perang yang terjadi secara otomatis akan berujung pada lengsernya Donald Trump.

Baca Juga: Baru Dua Tersangka, Kasus Febrie Adriansyah Uji Integritas Hukum Indonesia: Tidak Boleh Ada Ruang...

Namun, sejarah politik negara tersebut menunjukkan bahwa konflik militer berkepanjangan di luar negeri sering kali menjadi faktor yang memengaruhi tingkat kepuasan publik terhadap presiden yang sedang menjabat. Jika eskalasi terus berlanjut hingga memasuki masa kampanye pemilu sela, isu keamanan nasional dan kebijakan luar negeri diperkirakan akan menjadi salah satu penentu utama dinamika politik Amerika Serikat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar