Kredit Foto: Istimewa
Indonesia mulai menjadi perhatian investor China untuk pengembangan industri pengolahan bauksit. Ketua Asosiasi Bauksit Indonesia (ABI), Ronald Sulistyanto, menyebut di luar empat refinery bauksit yang telah beroperasi, terdapat sekitar 17 proyek tambahan yang berpotensi dikembangkan di Indonesia.
Dari jumlah tersebut, tiga proyek disebut sudah masuk tahap negosiasi dan pembicaraan, sementara sekitar 14 proyek lainnya masih berupa wacana. Jika terealisasi, tambahan fasilitas tersebut akan memperkuat kapasitas industri pengolahan bauksit nasional.
“Sebagai patokan, refinery yang sudah ada sekarang ada empat. Yang sedang melakukan negosiasi dan pembicaraan (bangun pabrik) kira-kira ada tiga. Jadi nanti akan menjadi tujuh. Kalau yang masih wacana banyak, sekitar 14,” ungkap Ronald kepada Warta Ekonomi, Senin (20/7/2026).
Menurut Ronald, mayoritas industri refinery bauksit yang berkembang di Indonesia berasal dari investor China. Selain memiliki pengalaman di sektor pengolahan mineral, investor China dinilai lebih memahami karakter industri pertambangan Indonesia.
“Rata-rata refinery bauksit itu tidak ada selain dari China. Karena yang memahami kultur pertambangan di Indonesia ya China. Dari luar China belum ada,” tutupnya.
Meningkatnya minat investor China terhadap industri pengolahan bauksit terjadi ketika komoditas tersebut mulai mencatat pertumbuhan investasi yang signifikan.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi hilirisasi bauksit mencapai Rp40,1 triliun pada triwulan II 2026. Nilai tersebut melonjak 193 persen dibandingkan triwulan I 2026 yang tercatat sebesar Rp13,7 triliun.
Kenaikan itu membuat bauksit untuk pertama kalinya menempati posisi teratas realisasi investasi hilirisasi nasional, menggeser nikel yang selama ini menjadi sektor unggulan.
Baca Juga: Penambang Bauksit Rugi US$10 per Ton Imbas HPM
Baca Juga: Bauksit Salip Nikel, Tapi Penambang Masih Tercekik Harga HPM
“Bauksit ini nomor 1, biasanya kita tahu selalu nikel, nah ini ada shifting bauksit, karena memang ada beberapa pembangunan bauksit, baik yang dilakukan oleh dalam negeri maupun luar negeri, sehingga bauksit ini untuk pertama kali juga mengambil tempat nomor 1 sesudah nikel,” ujar Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani.
China Mulai Melirik Rantai Industri Aluminium
Peningkatan perhatian terhadap bauksit juga tidak terlepas dari perubahan strategi sebagian investor China dalam industri mineral.
Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Septian Hario Seto mengungkapkan, sejumlah investor China mulai mempertimbangkan pengalihan sebagian kapasitas pengolahan nikel menuju aluminium.
“Saya kemarin di Cina baru ketemu juga dengan beberapa investor mereka bilang ya ya dia akan turunin beberapa NPI (Nickel Pig Iron) smelter-nya, NPI smelter-nya dia akan shut down emm dan dialihkan ke aluminium. Mereka sedang membangun di sana sekitar 1,2 juta aluminium,” ujarnya dalam pelatihan jurnalistik From Mine to Market yang diselenggarakan Shanghai Metal Market di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Menurut Seto, perubahan tersebut dilakukan karena investor melihat peluang baru pada industri aluminium, sekaligus menyesuaikan kondisi pasokan bahan baku mineral.
Indonesia Jadi Tujuan Pengembangan Refinery
Perubahan arah investasi tersebut kemudian berkaitan dengan peluang Indonesia sebagai lokasi pengembangan industri pengolahan bauksit.
Ronald menjelaskan, saat ini produksi refinery alumina di China tidak sebanyak sebelumnya sehingga membuka peluang perpindahan fasilitas pengolahan ke negara lain yang dianggap lebih kompetitif.
Namun, ia mengingatkan agar istilah dalam industri bauksit tidak disamakan antara refinery dan smelter.
“Saya luruskan dulu ya, antara smelter sama refinery. Jadi kita tidak bisa menyamakan istilah refinery dengan smelter. Kalau smelter itu alumina yang dipanaskan sampai meleleh menjadi aluminium. Kalau refinery itu dari bauksit menjadi bubuk putih, yaitu alumina,” kata Ronald.
Ia menilai Indonesia menjadi salah satu negara yang paling dekat dengan peluang tersebut.
“Karena sekarang produksi refinery alumina di China sudah tidak banyak dan kemungkinan besar akan berpindah ke negara-negara yang dianggap masih menguntungkan bagi China sendiri. Nah, satu-satunya yang mungkin terdekat dan memang sudah dimulai adalah Indonesia,” ujarnya.
Investasi Besar Masih Menunggu Realisasi
Meski potensi investasi semakin besar, Ronald mengingatkan angka investasi yang diumumkan pemerintah belum seluruhnya menjadi modal yang telah masuk ke Indonesia.
Menurutnya, pembangunan fasilitas pengolahan membutuhkan tahapan sehingga realisasi investasi akan masuk mengikuti perkembangan proyek.
“Kalau sudah masuk, itu sudah menjadi aset di Indonesia. Tapi pembangunan proyek kan bertahap. Misalnya, pada tahap awal ekuitasnya berapa persen, kemudian mulai konstruksi. Nilai besarnya memang komitmen,” jelas Ronald.
Ia memperkirakan tiga proyek refinery yang sudah berada dalam jalur pembicaraan memiliki nilai investasi sekitar US$4,5 miliar.
“Misalnya ada tiga refinery dengan output dua juta ton, berarti sekitar 1,5 miliar dolar AS dikali tiga. Tetapi yang benar-benar masuk ke Indonesia itu bertahap sesuai bobot progres konstruksinya. Jadi kalau proyeknya belum selesai, mungkin baru masuk 100 juta dolar AS dulu, dan seterusnya,”tandasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra