Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Soal Polemik 'Londo Ireng', Mahfud MD: Saya Paham

Soal Polemik 'Londo Ireng', Mahfud MD: Saya Paham Kredit Foto: Antara/Dedhez Anggara
Warta Ekonomi, Jakarta -

Mahfud MD menilai penyebutan istilah "Londo Ireng" oleh Presiden Prabowo Subianto terhadap kelompok yang kritis kepada pemerintah merupakan pernyataan yang menyakitkan dan mencerminkan sikap yang tidak menerima kritik. Menurut Mahfud, istilah tersebut memiliki makna historis sebagai cap bagi pengkhianat yang membantu penjajah Belanda melawan perjuangan bangsa, sehingga tidak tepat disematkan kepada jurnalis, pengamat, maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Dalam tayangan di kanal YouTube Mahfud MD Official yang diunggah pada Selasa (28/7/2026), Mahfud mengatakan kesan pertama yang muncul di benaknya setelah mendengar pernyataan Presiden adalah adanya kontradiksi antara ajakan menerima kritik dan respons terhadap para pengkritik.

"Yang tiba-tiba muncul di benak saya, presidennya tidak suka pada kritik. Selalu mengatakan ini negara demokrasi, silakan kritik pemerintah. Tapi sesudah itu menghantam balik para pengkritiknya tanpa penjelasan yang substantif," kata Mahfud.

Mahfud menjelaskan bahwa dalam sejarah, istilah "Londo Ireng" digunakan untuk menyebut orang-orang yang membantu pemerintahan kolonial Belanda dalam menghadapi perjuangan rakyat Indonesia. Karena itu, menurutnya, penyebutan istilah tersebut kepada kelompok kritis memiliki konotasi sebagai pengkhianat bangsa.

Ia mencontohkan penggunaan istilah tersebut pada masa Perang Diponegoro, ketika Belanda mendatangkan pasukan dari Minahasa untuk membantu menghadapi pasukan Diponegoro. Dari peristiwa itulah, kata Mahfud, muncul sebutan "Londo Ireng" yang kemudian identik dengan pihak yang membantu penjajah.

"Bagi saya itu agak menyakitkan. Londo Ireng itu menyakitkan karena sejarahnya adalah pengkhianatan terhadap perjuangan," ujarnya.

Menurut Mahfud, kritik yang disampaikan jurnalis, pengamat, maupun masyarakat sipil justru merupakan bagian dari upaya memperbaiki jalannya pemerintahan, bukan tindakan yang dapat disamakan dengan pengkhianatan.

Ia menilai para pengkritik tidak memiliki hubungan dengan kepentingan asing sebagaimana makna yang dilekatkan pada istilah "Londo Ireng". Sebaliknya, kritik disampaikan karena kepedulian terhadap bangsa dan disertai usulan solusi.

"Mari dong kalau mau berkritik. Ini bukan Londo Ireng. Ini orang yang cinta kepada bangsanya untuk meluruskan dan memberi solusi. Bukan hanya mengkritik," kata Mahfud.

Mahfud mengaku memahami reaksi keras kalangan jurnalis terhadap pernyataan Presiden, termasuk sikap Dewan Pers dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang mempersoalkan penggunaan istilah tersebut.

Ia mengatakan cap sebagai pengkhianat merupakan tuduhan yang sangat berat bagi pihak yang menjalankan fungsi kritik dalam negara demokrasi.

"Saya paham, sakit dibilang begitu. Pengkhianat itu orang yang paling jelek. Kita juga punya hak untuk berbicara," ujarnya.

Baca Juga: Ahok Akui Sulit, Anies Baswedan Bisa Lebih Mudah Melenggang di Kontestasi Capres 2029

Lebih lanjut, Mahfud mengingatkan bahwa sejak masa pergerakan nasional, organisasi masyarakat dan kelompok masyarakat sipil, termasuk pers, memiliki peran besar dalam mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan. Karena itu, menurutnya, kritik terhadap pemerintah seharusnya dipandang sebagai bagian dari kehidupan demokrasi, bukan sebagai bentuk perlawanan terhadap negara.

Ia pun berharap penggunaan diksi oleh Presiden lebih berhati-hati agar tidak menimbulkan kesan bahwa pemerintah memandang kritik sebagai ancaman.

"Kritik itu justru karena cinta kepada tanah air. Memang mungkin ada yang mengkritik karena alasan lain, tetapi yang utama adalah mengingatkan bahwa kita punya tujuan bersama," kata Mahfud.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat