Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Bank Indonesia (BI) menyatakan posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia turun menjadi US$145,6 miliar hingga akhir Juni 2026 dari rekor sekitar US$156 miliar yang sempat dicapai tahun ini. Meski menurun akibat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, BI menegaskan level tersebut masih jauh di atas standar kecukupan internasional.
Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan cadangan devisa saat ini setara dengan 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, lebih tinggi dibanding standar internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor.
"Cadev sebesar US$145,6 miliar masih relatif aman karena setara dengan 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah," kata Destry dalam konferensi pers hasil rapat KSSK di Kantor LPS, Jakarta, Senin (3/8/2026).
Destry menjelaskan penurunan cadangan devisa terjadi karena BI menggunakan sebagian devisa untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, serta memenuhi kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Meski demikian, BI memandang posisi cadangan devisa berpeluang kembali meningkat. Hal itu didukung oleh masuknya aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sepanjang kuartal II-2026 yang mencapai sekitar US$8,5 miliar hingga US$9 miliar.
Menurut Destry, derasnya aliran dana asing tersebut berpotensi memperkuat kembali cadangan devisa sekaligus menopang stabilitas pasar keuangan domestik.
BI juga menilai fundamental ekonomi nasional tetap terjaga. Inflasi pangan bergejolak (volatile food) turun menjadi 2,5%pada Juli 2026 dari sebelumnya di atas 5%, sementara inflasi inti bertahan di 2,76% dan inflasi nasional melandai menjadi 2,88%.
"Stabilitas ekonomi tetap terjaga dan pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir juga cukup terkendali," ujar Destry.
Sebelumnya, BI melaporkan posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2026 sebesar US$145,6 miliar, sedikit meningkat dibandingkan posisi akhir Mei 2026 yang sebesar US$144,9 miliar.
Baca Juga: Sebulan Beroperasi, DSI Kelola Devisa Lebih dari US$10,5 Miliar
Baca Juga: Bank Indonesia Umumkan Cadangan Devisa Naik, Tembus 145,6 Miliar Dollar AS
Baca Juga: Bahlil Sebut B50 Berpotensi Hemat Devisa Rp170 Triliun
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan kenaikan bulanan tersebut terutama didorong oleh penerimaan pajak dan jasa, meski di saat bersamaan pemerintah melakukan pembayaran utang luar negeri dan BI menjalankan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.
"Perkembangan posisi cadangan devisa Juni 2026 tersebut dipengaruhi terutama oleh penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah Bank Indonesia sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global," ujar Ramdan.
Ramdan menambahkan, posisi cadangan devisa akhir Juni tetap berada pada level yang mampu menopang ketahanan sektor eksternal dan menjaga stabilitas makroekonomi maupun sistem keuangan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Annisa Nurfitri