Mainkan 'Sanksi AS', Iran Kirim BBM ke China Lewat Laut China Selatan
Kredit Foto: Istimewa
Di tengah tekanan sanksi Amerika Serikat yang terus membatasi ekspor energinya, Iran diduga masih mampu mempertahankan pasokan bahan bakar minyak (BBM) ke China melalui jalur laut. Skema pengiriman tersebut dilakukan dengan memanfaatkan transfer muatan antarkapal di kawasan Laut China Selatan yang dinilai lebih sulit diawasi.
Laporan Al Jazeera mengungkapkan, kapal tanker Humanity milik Iran mematikan sistem identifikasi otomatis atau Automatic Identification System (AIS) saat melintas di kawasan Outer Port Limits (EOPL) Malaysia pada Sabtu pekan lalu. Langkah tersebut diduga menjadi bagian dari persiapan proses ship-to-ship transfer, yakni pemindahan muatan minyak ke kapal lain sebelum akhirnya dikirim ke pembeli akhir di China.
Praktik tersebut disebut menjadi salah satu cara Iran menjaga kelangsungan ekspor minyaknya meski menghadapi tekanan sanksi internasional. Dengan memindahkan muatan di tengah laut, asal minyak menjadi lebih sulit ditelusuri sebelum masuk ke pasar tujuan.
Kawasan EOPL di Laut China Selatan selama ini memang dikenal sebagai salah satu titik utama aktivitas transfer minyak antarkapal. Lokasinya berada di luar laut teritorial Malaysia, tetapi masih berada dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), sehingga pengawasan terhadap aktivitas pelayaran menjadi lebih kompleks.
Direktur Proyek Pemantauan Keamanan Maritim SeaLight Stanford University, Ray Powell, mengatakan data satelit menunjukkan sedikitnya 62 kapal sejak awal tahun memancarkan identitas palsu atau mematikan sistem pelacak saat beroperasi di jalur antara Teluk Persia, EOPL, Hong Kong hingga wilayah utara China.
Menurut Powell, kapal-kapal tersebut diduga menjadi bagian dari jaringan logistik yang membantu penjualan minyak Iran kepada kilang-kilang independen di China.
Kilang berskala kecil atau teapot refinery disebut masih menjadi pembeli utama minyak Iran karena dinilai lebih berani menghadapi risiko sanksi dibandingkan perusahaan energi milik negara China yang memiliki keterkaitan lebih besar dengan sistem keuangan internasional.
Pakar keamanan maritim dari YCAPS, Charlie Brown, mengatakan kawasan EOPL setiap hari dapat dipenuhi sekitar 200 kapal yang berlabuh. Ia memperkirakan hampir separuh kapal tersebut memiliki hubungan dengan aktivitas perdagangan minyak Iran.
Menurut Brown, sanksi ekonomi selama ini belum sepenuhnya menghentikan perdagangan minyak Iran. Selama jalur distribusi melalui laut masih tersedia, aktivitas transfer minyak antarkapal diperkirakan tetap berlangsung meski berada di bawah pengawasan internasional.
Merespons meningkatnya aktivitas tersebut, Pemerintah Malaysia memperketat aturan melalui amandemen Undang-Undang Zona Ekonomi Eksklusif pada Juni lalu. Regulasi baru itu memberikan dasar hukum untuk menindak aktivitas lego jangkar ilegal, pengisian bahan bakar, maupun transfer muatan tanpa izin.
Meski demikian, data satelit terbaru masih menunjukkan sedikitnya 18 kapal tanker berbendera Iran serta sekitar 50 kapal lain yang masuk daftar sanksi Amerika Serikat dan Uni Eropa tetap beroperasi di kawasan tersebut.
Selain mengandalkan jalur distribusi laut, perdagangan minyak Iran juga disebut memanfaatkan Cross-Border Interbank Payment System (CIPS) milik China yang menggunakan mata uang yuan. Skema pembayaran ini memungkinkan transaksi dilakukan di luar jaringan SWIFT yang selama ini menjadi instrumen utama pengawasan transaksi keuangan internasional oleh Amerika Serikat.
Baca Juga: Aktif Kritik Isu Gaza, Israel Mulai Usik Spanyol Lewat Krisis Ceuta
Peneliti Senior Center on Global Energy Policy Columbia University, Erica Downs, mengungkapkan Iran diperkirakan mengekspor sekitar 1,4 juta barel minyak per hari ke China sepanjang tahun lalu. Namun, dalam data resmi bea cukai China, impor tersebut tidak tercatat berasal dari Iran, melainkan dilaporkan sebagai impor dari Malaysia.
Sementara itu, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan pembelian minyak Iran oleh kilang-kilang independen China telah menurun sejak konflik terbaru di Timur Tengah pecah. Kendati demikian, keberadaan jaringan distribusi melalui transfer antarkapal dinilai masih memungkinkan sebagian ekspor minyak Iran tetap mencapai pasar internasional.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa di tengah tekanan sanksi dan meningkatnya ketegangan geopolitik, Iran masih memiliki jalur untuk mempertahankan ekspor BBM ke China melalui mekanisme distribusi yang lebih sulit dipantau. Kawasan perairan strategis di Asia Tenggara pun tetap memegang peran penting dalam rantai pasok energi global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: