Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BYD Klaim Mobil Hybrid DM Punya Biaya Kepemilikan Lebih Rendah 30 Persen

BYD Klaim Mobil Hybrid DM Punya Biaya Kepemilikan Lebih Rendah 30 Persen Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Warta Ekonomi, Jakarta -

Meningkatnya adopsi kendaraan elektrifikasi di Indonesia membuat pertimbangan konsumen tak lagi sebatas performa atau efisiensi bahan bakar. Aspek seperti biaya kepemilikan, kemudahan perawatan, hingga layanan purna jual kini menjadi faktor yang semakin diperhatikan sebelum memutuskan membeli kendaraan.

Melihat tren tersebut, PT BYD Motor Indonesia memanfaatkan ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 untuk memperkenalkan ekosistem purna jual bagi kendaraan berteknologi Dual Mode (DM) melalui sesi BYD Technology Talks bertema Own with Confidence.

Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia, Eagle Zhao, mengatakan pengalaman memiliki kendaraan tidak berhenti saat konsumen menerima unit, melainkan berlanjut sepanjang masa penggunaan. Karena itu, perusahaan berupaya menghadirkan dukungan layanan yang mencakup jaringan dealer, bengkel, teknisi bersertifikat, hingga pembaruan perangkat lunak secara berkala.

"Di BYD, kami percaya bahwa pengalaman kepemilikan kendaraan dimulai jauh sebelum pelanggan berkendara untuk pertama kalinya dan terus berlanjut sepanjang masa kepemilikan. Karena itu, inovasi tidak hanya berarti menghadirkan teknologi yang semakin canggih, tetapi juga memastikan setiap pelanggan didukung oleh layanan yang andal serta ekosistem yang terus berkembang," ujar Eagle.

Dalam kesempatan tersebut, BYD juga menjelaskan cara kerja teknologi Dual Mode (DM), yang menggabungkan mesin bensin dan motor listrik untuk menghasilkan efisiensi energi sekaligus fleksibilitas berkendara. Sistem ini dibangun di atas tiga komponen utama, yakni mesin hybrid berteknologi tinggi, Electric Hybrid System (EHS), dan Blade Battery.

Menurut BYD, kombinasi ketiga teknologi tersebut membuat kendaraan lebih sering beroperasi menggunakan tenaga listrik, terutama saat digunakan di area perkotaan. Mesin bensin baru akan bekerja ketika dibutuhkan, baik untuk mengisi daya baterai maupun membantu penggerak roda saat kondisi tertentu.

Perusahaan mengklaim pendekatan tersebut tidak hanya membuat konsumsi energi lebih efisien, tetapi juga mengurangi beban kerja mesin sehingga interval perawatan menjadi lebih panjang. Setelah servis pertama, kendaraan BYD DM hanya memerlukan perawatan berkala setiap satu tahun, setiap 20.000 kilometer berdasarkan odometer, atau setiap 10.000 kilometer penggunaan dalam mode hybrid, tergantung mana yang tercapai lebih dahulu.

Berdasarkan simulasi internal selama tiga tahun, BYD menyebut biaya perawatan M6 DM dapat lebih hemat sekitar 30 persen dibandingkan kendaraan konvensional di segmen yang sama. Klaim tersebut didasarkan pada kebutuhan servis yang lebih sedikit dan interval perawatan yang lebih panjang.

Selain efisiensi operasional, BYD juga menyoroti dukungan purna jual yang menjadi bagian dari ekosistem kepemilikan kendaraan. Konsumen memperoleh garansi kendaraan hingga enam tahun atau 150.000 kilometer, serta garansi motor penggerak dan baterai tegangan tinggi selama delapan tahun atau 160.000 kilometer.

Fitur Over-the-Air (OTA) Updates juga disematkan agar pembaruan perangkat lunak dapat dilakukan tanpa harus datang ke bengkel. Melalui sistem ini, pengguna dapat memperoleh peningkatan fitur maupun penyempurnaan sistem secara berkala.

Baca Juga: BYD Perluas Pilihan MPV Elektrifikasi di GIIAS 2026 dengan M6 EV dan DM

Baca Juga: BYD Cari 9.000 Karyawan Baru, Gaji Belasan Juta Rupiah

Di sisi layanan, BYD menyediakan call center bebas pulsa dan layanan Roadside Assistance selama 24 jam dengan masa berlaku hingga enam tahun atau 150.000 kilometer. Bantuan darurat tersebut mencakup evakuasi kendaraan menuju dealer BYD terdekat dalam radius hingga 50 kilometer.

Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan mengatakan, layanan purna jual menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan konsumen terhadap kendaraan elektrifikasi.

"Bagi BYD, layanan purna jual bukan sekadar memberikan solusi ketika pelanggan menghadapi kendala. Yang lebih penting adalah memastikan pelanggan selalu merasa didukung di setiap tahap kepemilikan kendaraan," kata Luther.

Hingga saat ini, BYD menyebut telah memiliki lebih dari 100 dealer yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Jaringan tersebut terus diperluas untuk memudahkan konsumen memperoleh layanan penjualan maupun purna jual seiring meningkatnya jumlah pengguna kendaraan BYD di Tanah Air.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dwi Aditya Putra