Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Komdigi Ungkap AI Bisa Jadi Pelaku Serangan Siber, Bukan Lagi Hacker

Komdigi Ungkap AI Bisa Jadi Pelaku Serangan Siber, Bukan Lagi Hacker Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengingatkan perubahan lanskap ancaman keamanan siber seiring perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Pelaku serangan siber ke depan tidak lagi hanya mengandalkan peretas, tetapi dapat menggunakan Agent AI sebagai threat actor.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan perkembangan AI menghadirkan tantangan baru bagi sistem pertahanan siber. Teknologi tersebut tidak hanya dapat digunakan untuk memperkuat keamanan, tetapi juga dimanfaatkan untuk melancarkan serangan.

"Kita bisa bayangkan apa yang terjadi saat ini dengan Agent AI yang dipakai untuk menjadi threat actor. Jadi yang menyerang bukan lagi hacker, tapi Agent AI," kata Nezar dalam acara Peluncuran ITSEC Cyber & AI Academy di Jakarta, Senin (10/8/2026).

Menurut Nezar, perubahan karakter ancaman tersebut membuat pemerintah perlu mengantisipasi perkembangan teknologi sejak dini. Kondisi ini juga menjadi tantangan dalam membangun arsitektur keamanan siber nasional.

Pengalaman Indonesia menghadapi serangan ransomware terhadap Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 pada Juni 2024 menjadi salah satu pelajaran penting. Saat itu, PDNS 2 yang berada di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) diserang menggunakan pengembangan dari ransomware LockBit 3.0.

"Pada Juni 2024, PDNS 2 milik Kominfo waktu itu ya. Sebelum saya di Komdigi, saya waktu itu sudah bergabung dengan Kominfo. Dan kita diserang pengembangan dari LockBit 3.0. Dan itu data semua terkunci. Betapa paniknya kita semua pada waktu itu," ungkapnya.

Serangan tersebut membuat sejumlah data layanan publik terkunci. Salah satu data yang terdampak berkaitan dengan layanan pendidikan, termasuk data ratusan ribu siswa yang berhak menerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan KIP Kuliah.

"Sangat real time tekanannya. Dan tidak sesederhana yang kita pikirkan. Karena data-data yang dikunci oleh ransomware itu adalah data layanan publik," tambahnya.

Dari pengalaman tersebut, Komdigi mengevaluasi kembali arsitektur keamanan siber untuk Pusat Data Nasional. Pemerintah kemudian menggeser pendekatan keamanan ke tahap awal pembangunan sistem melalui konsep Security by Design.

"Kalau dulu cybersecurity itu ada di belakang, setelah dibangun baru dipikirkan keamanannya, tapi sekarang kita shift to the left. Mulai dari yang pertama, apa yang kita sebut sebagai Security by Design," jelasnya.

Melalui pendekatan tersebut, aspek keamanan dipertimbangkan sejak tahap perencanaan sebelum platform atau aplikasi dibangun. Langkah ini dilakukan di tengah berkembangnya bentuk ancaman yang semakin kompleks.

Selain AI, Nezar mengingatkan ancaman yang berasal dari perkembangan teknologi komputasi kuantum. Salah satunya melalui praktik Harvest Now, Decrypt Later, yakni data yang telah dicuri disimpan terlebih dahulu untuk kemudian didekripsi menggunakan teknologi yang lebih maju pada masa mendatang.

Indonesia, kata Nezar, perlu mulai mempersiapkan sistem kriptografi yang mampu menghadapi perkembangan tersebut melalui Post-Quantum Cryptography.

"Keamanan data yang kita lakukan dengan Classical Computing saat ini mungkin tidak ada artinya setelah teknologi Quantum hadir," katanya.

Nezar menilai perkembangan AI dan komputasi kuantum menunjukkan keamanan siber perlu diperhitungkan sejak awal pembangunan sistem digital. Pemerintah perlu mengantisipasi perkembangan teknologi tersebut untuk menjaga keamanan infrastruktur dan data nasional.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri