Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Airlangga Pribadi Kusman dan Kata-Kata yang Tak Sempat Diselesaikan

Oleh: Nezar Patria - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital

Airlangga Pribadi Kusman dan Kata-Kata yang Tak Sempat Diselesaikan Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Saya tak mengira mendapat kabar duka hari ini. Airlangga Pribadi Kusman, seorang intelektual muda dan pemikir berbakat, mendadak pergi dengan cara yang indah bagi siapa saja yang menekuni ilmu.

Dia tiba di Jakarta dari Surabaya dengan menumpang kereta dan turun di Stasiun Gambir. Hari masih terlalu pagi. Angga, demikian dia disapa, kemudian menuju kedai kopi Atjeh Connection di Jalan Sabang yang buka sepanjang hari dan malam.

Dia memesan kopi kesukaannya dan sejumlah kudapan untuk sarapan. Kedai masih sepi. Sambil menunggu dijemput sang istri, Lia, yang harus mengantarkan anaknya sekolah di daerah Pamulang, Angga membuka laptop dan melanjutkan menulis makalah tentang Soekarno, sebuah artikel riset yang ditulisnya bersama Vijay Prashad, sejarawan dan intelektual dari India.

“Laptopnya masih terbuka ketika Angga bangun dari tempat duduknya di kedai itu, lalu berdiri sempoyongan, dan akhirnya jatuh,” ujar Didik, sahabatnya di Penerbit GDN, perusahaan yang menerbitkan buku-buku karya Angga.

Di laptop, artikel yang hampir selesai itu masih tampil di layar. Angga baru ditemukan oleh penjaga kedai dalam keadaan tergeletak di lantai. Istrinya, Lia, menghubungi melalui telepon genggam dan penjaga kedai memberitahukan keadaan Angga yang pingsan.

Ambulans datang dan Angga dilarikan ke unit gawat darurat RSPAD Gatot Subroto. “Penjaga kedai menceritakan saat-saat Angga terjatuh melalui rekaman CCTV mereka,” kata Didik.

Di dalam ambulans, tekanan darahnya mencapai 240 dan terus meningkat hingga di ruang emergensi. Gula darahnya 400. “Angga dalam keadaan koma sejak dia dibawa ke RS,” kata Didik.

Sekitar pukul 13.35, Angga mengalami henti jantung. Di ruang itu, para dokter berupaya keras agar jantungnya kembali berdetak. Namun, takdir punya jalannya sendiri.

Angga akhirnya meninggal. Dia berusia 49 tahun dan tercatat sebagai dosen di FISIP Universitas Airlangga, kampus yang namanya juga menjadi nama depannya.

Intelektual yang Menekuni Ekonomi Politik

Saya, seperti para kawan dekatnya, terkejut.

Saya mengenalnya ketika dia mengambil program doktoral di Universitas Murdoch, Australia, sekitar 2010, di bawah asuhan Prof. Vedi Hadiz dan Richard Robison. Saat itu, kami mendiskusikan 25 tahun terbitnya buku The Rise of Capitalkarya Robison.

Kelak, pendekatan ekonomi politik itu menjadi ciri khas kampus Murdoch, atau boleh disebut sebagai “Murdoch School”. Angga adalah salah satu intelektual yang mewarisi disiplin ilmu politik tersebut.

Dia menulis satu karya penting, The Vortex of Power: Intellectuals and Politics in Indonesia's Post-Authoritarian Era, yang diterbitkan Palgrave Macmillan pada 2019. Buku hasil riset doktoralnya itu menelisik jejaring kekuasaan yang tumbuh di Jawa Timur setelah reformasi.

Karya lainnya yang mencerminkan kegigihannya adalah Merahnya Ajaran Bung Karno: Narasi Pembebasan ala Indonesia (2022).

Setelah itu, dia terus menekuni pemikiran Soekarno dan Marhaenisme. Dia menulis banyak artikel dan buku. Salah satu karya terbarunya adalah Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z, yang ditulisnya bersama Rocky Gerung dan rencananya akan dikupas dalam sebuah diskusi buku di Tangerang Selatan, Kamis besok.

Pergi Saat Berkarya

Ketika mendengar kabar duka yang mengagetkan itu, saya bergerak ke RSPAD. Lia dan Didik masih berada di ruang emergensi.

Di depan kami, Angga tidur terbujur dengan tenang. Saya berdoa dan mengirimkan Al-Fatihah untuknya. Lia tampak sangat tabah dan menceritakan detik-detik terakhir suaminya pergi.

Saya terus membayangkan bagaimana dia menulis pada saat-saat terakhirnya. Laptop masih menyala. Dia bangkit dari kursi, lalu sesaat kemudian kakinya goyah, limbung, dan jatuh tergeletak di lantai.

Saya percaya saat itu dia sedang bergulat dengan pemikiran sekaligus bertempur dengan kata-kata yang hendak dituliskannya untuk menjadi abadi.

Pergi saat berkarya adalah kepergian yang indah bagi seorang intelektual.

Selamat jalan, kawan. Karyamu akan selalu hidup dalam perdebatan dan sanjungan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: