- Home
- /
- EkBis
- /
- Transportasi
Berantas ODOL, Hutama Karya-Kemenhub Integrasikan Bukti Lulus Uji Elektronik
Kredit Foto: NTMC Polri
Warta Ekonomi, Jakarta -
Melalui integrasi tersebut, kendaraan angkutan yang terdeteksi oleh WIM dapat terhubung dengan basis data Blu-E untuk mendukung proses identifikasi dan pencatatan kendaraan secara lebih terintegrasi.
PT Hutama Karya (Persero) melakukan kerja sama integrasi Bukti Lulus Uji Elektronik (Blu-E) bersama Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Kerja sama ini menjadi bagian dari penguatan pemanfaatan data kendaraan angkutan yang dikelola Kementerian Perhubungan dengan sistem dan infrastruktur yang ada, sehingga lebih mudah mendeteksi kendaraan berlebih muatan dan dimensi (Over Dimension Over Loading/ODOL) atau truk obesitas.
Bagi Hutama Karya, kerja sama tersebut memungkinkan data kendaraan angkutan pada platform Blu-E diintegrasikan dengan sistem Weigh in Motion (WIM) yang sebelumnya telah terpasang di sejumlah ruas jalan tol Hutama Karya.
Melalui integrasi tersebut, kendaraan angkutan yang terdeteksi oleh WIM dapat terhubung dengan basis data Blu-E untuk mendukung proses identifikasi dan pencatatan kendaraan secara lebih terintegrasi.
Pemanfaatan data ini diharapkan dapat memperkuat efektivitas pengawasan kendaraan angkutan barang. Termasuk dalam mengidentifikasi kendaraan yang terindikasi melakukan pelanggaran berlebih dimensi dan muatan, atau Over Dimension Over Loading (ODOL).
Direktur Operasi III Hutama Karya, Iwan Hermawan, menyampaikan, integrasi Blu-E dan WIM akan memperkuat pemanfaatan data dalam pengawasan kendaraan angkutan barang di jalan tol. Hingga Juli 2026, melalui sistem WIM yang telah terpasang, tercatat sebanyak 342.748 kendaraan teridentifikasi terindikasi ODOL.
“Data yang telah kami himpun melalui WIM menunjukkan pentingnya pengawasan ODOL yang semakin terintegrasi. Dengan integrasi Blu-E, hasil deteksi WIM nantinya dapat terkoneksi dengan data kendaraan angkutan yang dikelola Kementerian Perhubungan. Sehingga proses identifikasi dan pencatatan kendaraan dapat dilakukan secara lebih efektif dan berbasis data. Integrasi ini diharapkan dapat memperkuat pengawasan sekaligus mendukung langkah penanganan ODOL yang lebih tepat sasaran,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi Hutama Karya, Selasa (11/8/2026).
Menurut Iwan, penanganan ODOL membutuhkan kolaborasi lintas instansi. Mengingat dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan kendaraan angkutan, tetapi juga terhadap keselamatan pengguna jalan serta keberlanjutan kualitas infrastruktur jalan tol. Keterhubungan data antar sistem menjadi salah satu aspek penting agar pengawasan dapat dilakukan secara lebih komprehensif.
“Dengan sistem dan data yang semakin terhubung, pengawasan tidak hanya berhenti pada kendaraan yang terdeteksi di jalan tol, tetapi dapat didukung dengan informasi kendaraan yang lebih komprehensif. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk mendorong angkutan barang yang lebih tertib dan berkeselamatan menuju Zero ODOL 2027,” tutur Iwan.
Direktur Operasi III Hutama Karya, Iwan Hermawan, menyampaikan, integrasi Blu-E dan WIM akan memperkuat pemanfaatan data dalam pengawasan kendaraan angkutan barang di jalan tol. Hingga Juli 2026, melalui sistem WIM yang telah terpasang, tercatat sebanyak 342.748 kendaraan teridentifikasi terindikasi ODOL.
“Data yang telah kami himpun melalui WIM menunjukkan pentingnya pengawasan ODOL yang semakin terintegrasi. Dengan integrasi Blu-E, hasil deteksi WIM nantinya dapat terkoneksi dengan data kendaraan angkutan yang dikelola Kementerian Perhubungan. Sehingga proses identifikasi dan pencatatan kendaraan dapat dilakukan secara lebih efektif dan berbasis data. Integrasi ini diharapkan dapat memperkuat pengawasan sekaligus mendukung langkah penanganan ODOL yang lebih tepat sasaran,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi Hutama Karya, Selasa (11/8/2026).
Menurut Iwan, penanganan ODOL membutuhkan kolaborasi lintas instansi. Mengingat dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan kendaraan angkutan, tetapi juga terhadap keselamatan pengguna jalan serta keberlanjutan kualitas infrastruktur jalan tol. Keterhubungan data antar sistem menjadi salah satu aspek penting agar pengawasan dapat dilakukan secara lebih komprehensif.
“Dengan sistem dan data yang semakin terhubung, pengawasan tidak hanya berhenti pada kendaraan yang terdeteksi di jalan tol, tetapi dapat didukung dengan informasi kendaraan yang lebih komprehensif. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk mendorong angkutan barang yang lebih tertib dan berkeselamatan menuju Zero ODOL 2027,” tutur Iwan.
Baca Juga: Kemenhub Jamin Angkutan Perintis Tak Berhenti Meski Anggaran Terbatas
Secara terpisah, Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwagandhi, menegaskan persoalan ODOL telah lama menjadi perhatian bersama karena memiliki dampak yang luas, mulai dari risiko terhadap keselamatan lalu lintas hingga percepatan kerusakan infrastruktur dan kerugian yang ditimbulkan.
Secara terpisah, Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwagandhi, menegaskan persoalan ODOL telah lama menjadi perhatian bersama karena memiliki dampak yang luas, mulai dari risiko terhadap keselamatan lalu lintas hingga percepatan kerusakan infrastruktur dan kerugian yang ditimbulkan.
“Seiring dengan jumlah kendaraan yang terus bertambah, penanganan ODOL perlu dilakukan secara konsisten dan menyeluruh dengan dukungan teknologi serta kolaborasi antar pemangku kepentingan,” seru Dudy.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Editor: Dwi Aditya Putra