Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

ASDP Bongkar Biang Kerok Kemacetan di Ketapang Akibat Truk ODOL Menumpuk

ASDP Bongkar Biang Kerok Kemacetan di Ketapang Akibat Truk ODOL Menumpuk Kredit Foto: Antara/Budi Candra Setya
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengungkap biang kerok kemacetan panjang di Pelabuhan Penyeberangan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang utamanya terjadi akibat penumpukan kendaraan angkutan barang menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Utamanya imbas pengaturan truk logistik berlebih muatan dan dimensi atau Over Dimension Over Load (ODOL). 

Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Windy Andale mengakui bahwa pihaknya saat ini terus mendapatkan highlight akibat antrian panjang di Pelabuhan Ketapang. Terlebih ini terjadi pada periode low season di September 2026.

"Kita mencatat mulai ada kepadatan itu di 30 Agustus sampai dengan 5 September 2026. Peningkatan lonjakan produksinya itu terjadi di 2-3 hari pertama. Lonjakan kendaraan yang terjadi itu sekitar 16% jika kita bandingkan dengan bulan sebelumnya. Kalau kita lihat year on year mungkin overall itu peningkatan yang terjadi adalah di 8%," jelasnya di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Dari hasil evaluasi yang dilakukan ASDP, tak dipungkiri bahwa truk logistik jadi salah satu faktor dominan yang berdampak terhadap terjadinya antrian. Utamanya akibat adanya penurunan daya serap kendaraan besar di Pelabuhan Tanjung Wangi, yang berjarak sekitar 2 km dari Pelabuhan Ketapang.

"Ini mungkin sempat menjadi permasalahan di awal dimana adanya penurunan daya serap kendaraan logistik di pelabuhan Tanjung Wangi, which is yang di sebelah pelabuhan kami di Ketapang. Mereka ada penurunan jumlah kapal, sehingga sebagian dari produksi itu kemudian beralih ke Ketapang dan sebagian lain itu sempat terjadi antrian," terang Windy.

"Jadi biasanya kalau karakternya mereka akan menunggu di sisi-sisi jalan yang itu mungkin menyebabkan kepadatan. Lalu sehingga kemudian juga beban di Ketapang-Gilimanuk mengalami peningkatan," dia menekankan.

Menurut dia, kekuatan dermaga di Pelabuhan Ketapang saat ini belum bisa mengakomodir kendaraan-kendaraan yang bersifat ODOL. Hal itu lantas mempengaruhi pola muat kapal, lantaran hanya ada satu dermaga di pelabuhan tersebut hanya bisa mengakomodir kendaraan dengan berat lebih dari 20 ton.

"Sehingga memang di sisi pelabuhan itu bottleneck karena semua akan masuk ke dermaga LCM. Dengan pola muat yang mungkin sedikit, manuvernya itu sedikit khusus, sehingga proses muat ini cukup lama untuk satu kendaraan truk saja," beber Windy.

Permasalahan berikutnya berkaitan dengan Dermaga Bulusan yang dipakai untuk melayani truk logistik bertonase besar. Hanya saja, tempat ini belum bisa difungsikan kembali setelah dua unit dolphin fender di dermaga tersebut roboh dan jatuh ke laut.

"Ini juga mengurangi daya serap di sisi Ketapang atau Banyuwangi. Karena memang dermaga kami itu belum di atas 50 ton, sehingga kami pun punya DSPP (Daftar Susunan Personel dan Peralatan), kita sudah memetakan beberapa solusi untuk penyelesaian permasalahan Ketapang," kata Windy.

Baca Juga: ASDP Tingkatkan Keamanan dan Ketertiban, Pastikan Pelabuhan Tetap Steril

Baca Juga: Zero ODOL 2027 Segera Diterapkan, Kakorlantas Minta Polri Petakan Masalah Sejak Sekarang

Baca Juga: Tata Kelola MBG Diusut, Kejagung Panggil 5 Saksi dari BUMN hingga BGN

Adapun solusi jangka pendeknya melalui program peningkatan dermaga yang butuh dilakukan secara bertahap. Namun, adanya pekerjaan tersebut malah turut berdampak pada terjadinya antrian karena otomatis kapasitas dermaga jadi berkurang.

"Kalau dari sisi dermaganya tadi Tanjung Wangi juga menurunkan kapasitasnya, Bulusan tidak bisa digunakan, dan satu pasang dermaga kami di Ketapang dan di Gilimanuk juga tidak bisa digunakan karena bagian dari program peningkatan dermaga, yang nantinya kita targetkan sudah bisa fully operate mungkin target ultimate kami itu di angkutan lebaran tahun depan," tuturnya.

"Jadi ini sebetulnya solusi jangka menengah yang kami siapkan, tapi sayangnya di saat ini menjadi menyebabkan mungkin antrian, salah satu penyebab antrian," tegas Windy.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Editor: Dian Ihsan