Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

PB Mathla’ul Anwar ke Newport: Al-Quran Bukan Alat Gimmick Apalagi Promosi Miras

PB Mathla’ul Anwar ke Newport: Al-Quran Bukan Alat Gimmick Apalagi Promosi Miras Kredit Foto: Antara/Muhammad Iqbal
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengurus Besar (PB) Mathla’ul Anwar melayangkan kecaman keras terhadap dugaan penggunaan hafalan salah satu surat sebagai gimmick promosi minuman keras alias Miras Newport di Ancol, Jakarta Utara.

Ketua Umum PB Mathla’ul Anwar Jazuli Juwaini menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan sekadar soal konsep promosi yang dianggap tidak sensitif. Menurutnya, ada persoalan penghormatan terhadap kesucian al-qur'an dan nilai-nilai kehidupan beragama yang harus diperhatikan.

Baca Juga: Angka Pengangguran Jabar Masih Tinggi, Dedi Mulyadi: Investasi Akan Datang Apabila Jalan Tolnya Baik

“Kami mengecam keras tindakan yang menjadikan Al-Qur’an sebagai alat permainan dan gimmick pemasaran. Al-Qur’an adalah Kalamullah, bukan bahan candaan, bukan alat promosi, dan bukan komoditas untuk mengejar keuntungan,” kata Jazuli, dikutip Rabu (12/8/2026).

PB Mathla’ul Anwar menyebut penggunaan ayat suci dalam rangkaian promosi tersebut telah melewati batas kepatutan. Organisasi tersebut menilai al-qur'an tidak semestinya ditempatkan sebagai bagian dari permainan atau strategi pemasaran, terlebih ketika hadiah yang diberikan berupa minuman keras.

Jazuli menilai persoalan menjadi semakin serius karena ayat suci dikaitkan dengan pemberian minuman keras. Dalam perspektif islam, minuman keras merupakan sesuatu yang diharamkan sehingga penggunaannya sebagai hadiah dalam konteks tersebut dinilai semakin tidak pantas.

Ia pun meminta pihak yang berada di balik kegiatan tersebut tidak berlindung di balik dalih kreativitas, hiburan ataupun strategi pemasaran. Menurut dia, aktivitas komersial tetap memiliki batas moral dan etika yang harus dihormati.

Kontroversi tersebut kini juga mendapat perhatian aparat kepolisian. PB Mathla’ul Anwar meminta proses pemeriksaan tidak berhenti sebatas klarifikasi terhadap pihak penyelenggara.

Jazuli meminta aparat menelusuri seluruh pihak yang terlibat dalam perencanaan hingga pelaksanaan gimmick tersebut.

“Kami meminta polisi bertindak tegas. Jangan berhenti pada klarifikasi. Usut siapa yang bertanggung jawab dan proses secara hukum apabila ditemukan unsur pelanggaran,” tegasnya.

Menurut Pengurus Besar Mathla’ul Anwar, pengusutan diperlukan untuk memastikan apakah terdapat unsur pelanggaran hukum dalam kegiatan tersebut. Terlebih, video yang beredar telah menimbulkan reaksi luas di masyarakat.

Jazuli juga meminta penyelenggara maupun pihak yang berkaitan dengan promosi tersebut memberikan penjelasan secara terbuka kepada publik. Klarifikasi dinilai penting agar masyarakat mengetahui bagaimana konsep tersebut dirancang dan siapa saja pihak yang bertanggung jawab.

PB Mathla’ul Anwar pada saat yang sama mengimbau umat Islam agar tidak mengambil tindakan sendiri. Organisasi tersebut menyerahkan penanganan persoalan kepada aparat penegak hukum.

“Kami tidak menghendaki main hakim sendiri, tetapi kami juga tidak akan diam ketika kesucian Al-Qur’an dipermainkan. Negara harus hadir. Hukum harus ditegakkan. Jangan jadikan agama sebagai bahan permainan untuk kepentingan komersial,” ujar Jazuli.

Adapun Direktur Newport, Handoko Sasongko menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut. Ia menegaskan aktivitas tersebut bukan merupakan program maupun konsep promosi.

Baca Juga: Megawati: Gelar Profesor Saya Tiga dan Doktornya Sebelas, Tapi Gak Beli Loh!

"Newport menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh umat muslim, tokoh agama, dan seluruh masyarakat atas kejadian yang menimbulkan ketidaknyamanan, rasa terluka, dan kegaduhan yang terjadi," ungkap Handoko.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar