Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,69% pada perdagangan Rabu (12/8/2026), di tengah penantian investor terhadap hasil Index Review Agustus 2026 dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik 105,96 poin ke level 6.373,84. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di zona hijau dengan level terendah 6.272,30 dan level tertinggi 6.373,84.
Penguatan IHSG ditopang mayoritas saham. Sebanyak 452 saham menguat, sedangkan 175 saham melemah dan 168 saham lainnya stagnan.
Aktivitas perdagangan juga cukup ramai. Volume transaksi mencapai sekitar 34,41 miliar saham dengan nilai transaksi Rp17,38 triliun. Adapun frekuensi perdagangan tercatat sekitar 2,09 juta transaksi.
"Dalam skenario terbaik, indeks berpotensi menguat menuju level 6.440-6.544," ujar Herditya dalam riset hariannya.
Herditya tetap mengingatkan risiko koreksi apabila IHSG gagal mempertahankan momentum positif dan kembali menembus level support penting. Dalam skenario tersebut, indeks berpotensi turun menuju kisaran 5.890-6.192.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta juga melihat peluang penguatan IHSG berdasarkan sejumlah indikator teknikal. Namun, ruang kenaikan indeks dinilai masih terbatas karena investor cenderung menahan diri sambil menunggu kepastian dari sejumlah sentimen utama.
Baca Juga: IHSG Mendadak Bangkit 1% Jelang Pengumuman MSCI
Baca Juga: Jelang Hasil MSCI, IHSG Punya Peluang Balik Arah ke 6.544
Baca Juga: IHSG Dibuka Hijau, Naik 0,16% ke Level 6.277
Nafan memperkirakan volatilitas pasar dapat meningkat menjelang pengumuman hasil tinjauan MSCI.
"Menjelang pengumuman MSCI, volatilitas pasar diperkirakan meningkat. Investor cenderung mengambil posisi hati-hati sambil mencermati hasil tinjauan tersebut serta dampaknya terhadap pasar saham Indonesia," kata Nafan.
Selain MSCI, investor mencermati perkembangan geopolitik global. Ketegangan yang kembali meningkat antara Amerika Serikat dan Iran turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Menurut Nafan, kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see. Perubahan harga energi dinilai dapat memberikan pengaruh lebih luas terhadap sentimen pasar dan keputusan investasi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: