Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Menag Ungkap Skema Wakaf Saham Masih Digodok

Menag Ungkap Skema Wakaf Saham Masih Digodok Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan skema pemanfaatan wakaf melalui instrumen saham masih dalam tahap penyempurnaan. 

"Oh itu ada penjelasannya panjang itu. Nanti tanyakan BWI (Badan Wakaf Indonesia) ya. Wakaf itu kan ada lembaga bisnisnya kan," kata Nasaruddin, di Kompleks DPR, Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Namun, Nasaruddin menegaskan bahwa sistemnya masih dalam proses penyempurnaan. "Sedang diperbaiki sistemnya," katanya.

Menurut Nasaruddin, tujuan utama pengembangan wakaf melalui instrumen bisnis, termasuk saham, adalah meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

"Ya apa pun yang bisa menghasilkan dana untuk umat ya, kita ini," ujarnya.

Sebelumnya, Nasaruddin menyampaikan bahwa pemanfaatan instrumen pasar modal dilakukan agar dana wakaf tidak hanya bersifat karitatif, tetapi juga mampu menghasilkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Ia mengungkapkan Masjid Istiqlal telah menjadi masjid pertama yang mengembangkan pengelolaan wakaf tunai melalui kerja sama dengan Bursa Efek Indonesia.

"Pertama kali masjid yang masuk Bursa Efek adalah Masjid Istiqlal. Wakaf tunai yang kami kumpulkan bekerja sama dengan Bursa Efek sehingga ada pemberdayaan ekonomi umat," ujar Nasaruddin, Jumat (7/8/2026).

Baca Juga: Kemenag Luruskan Isu Istiqlal Masuk Bursa, Ternyata soal Wakaf Saham Syariah

Baca Juga: Kemenag Jelaskan Program Wakaf Saham Masjid Istiqlal, Tegaskan Bukan IPO

Baca Juga: Wakaf Masjid Istiqlal Masuk Pasar Modal, OJK Ungkap Syaratnya

Menurut dia, skema tersebut dijalankan melalui Istiqlal Global Fund (IGF), lembaga yang dibentuk pada 2021 di bawah Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI). Dana wakaf tunai yang dihimpun kemudian dikelola melalui portofolio investasi yang sesuai dengan prinsip pasar modal syariah, sementara imbal hasilnya digunakan untuk mendukung berbagai program pemberdayaan masyarakat.

"Kita tidak menggunakan istilah deposito, tetapi wakaf produktif. Sebagian keuntungan dari saham itu dikembalikan kepada umat melalui berbagai program Masjid Istiqlal. Inilah yang kami paralelkan dengan Bursa Efek," kata Nasaruddin.

Selain itu, IGF juga dikembangkan sebagai pusat pembinaan ekonomi umat melalui pelatihan dan pendampingan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri