Kredit Foto: Rolls-Royce
Orang hebat bukan selalu yang paling berbakat. Sering kali mereka hanya memiliki satu kegelisahan: melihat sesuatu yang sebenarnya masih bisa dibuat lebih baik.
Pada awal abad ke-20, suara mobil terdengar kasar—berisik, bergetar, bahkan sesekali seperti letusan kecil. Saat itu, kondisi tersebut dianggap lumrah. Mobil memang demikian adanya.
Namun, Henry Royce melihatnya secara berbeda. Di balik kebisingan itu, ia mendengar sesuatu yang tidak didengar orang lain: ketidaksempurnaan. Ketika banyak orang menerima kondisi tersebut sebagai hal biasa, Royce justru bertanya, "Mengapa harus begini?"
Pertanyaan sederhana itu kemudian menjadi obsesi yang membentuk seluruh hidupnya. Ia ingin menciptakan mobil yang paling halus dan paling senyap di dunia. Dari kegelisahan itulah lahir Rolls-Royce.
Sesungguhnya, ini bukan sekadar kisah tentang mobil. Ini adalah kisah tentang bagaimana seseorang menemukan sesuatu yang begitu penting hingga memenuhi pikirannya sepanjang hidup.
Royce hampir menghabiskan seluruh waktunya di pabrik. Ia berpindah dari satu mesin ke mesin lain untuk memeriksa komponen, pelumasan, getaran, hingga suara-suara kecil yang bagi kebanyakan orang dianggap sepele.
Dalam The Six-Word Secret to Success, Earl Nightingale menceritakan bahwa Royce begitu tenggelam dalam pekerjaannya hingga sering lupa makan. Perusahaan bahkan menugaskan seorang anak untuk mengikutinya sambil membawa roti lapis dan segelas susu agar ia tidak mengabaikan kebutuhan tubuhnya sendiri.
Ketika kelelahan, Royce tidak selalu pulang. Ia tidur sebentar di sebuah dipan sederhana di sudut pabrik, lalu kembali bekerja. Pabrik bukan lagi sekadar tempat mencari nafkah, melainkan ruang hidupnya.
Suatu ketika, Royce mendengar seorang insinyur berkata, "Itu sudah cukup baik."
Kalimat yang bagi banyak orang menjadi tanda pekerjaan selesai justru membuatnya marah. Baginya, selama sesuatu masih bisa diperbaiki, pekerjaan belum benar-benar selesai.
Di situlah letak paradoksnya. Royce mengejar kesempurnaan, padahal ia tahu kesempurnaan tidak pernah benar-benar dapat dicapai.
Mungkin memang demikian fungsi kesempurnaan. Ia bukan tujuan akhir, melainkan arah yang membuat seseorang terus bergerak.
Seperti cakrawala. Kita tidak pernah benar-benar mencapainya. Namun karena terus berjalan ke arahnya, kita melangkah lebih jauh daripada mereka yang terlalu cepat merasa cukup.
Barangkali orang-orang hebat tidak memiliki garis finis yang berbeda. Mereka hanya memiliki standar berhenti yang berbeda.
Earl Nightingale menyebut orang-orang seperti Royce sebagai River People. Mereka menemukan sesuatu yang begitu dicintai hingga lupa bahwa mereka sedang bekerja.
Sebaliknya, ada Goal People, yaitu mereka yang memperoleh energi dari target, proyek, angka, atau tantangan yang harus ditaklukkan.
Yang satu digerakkan oleh kecintaan terhadap proses. Yang lain oleh hasrat mencapai tujuan.
Mozart memiliki musik. Walt Disney memiliki imajinasi. Henry Royce memiliki mesin.
Namun, menemukan sesuatu yang dicintai ternyata belum cukup.
Berbagai riset mengenai deliberate practice menunjukkan bahwa orang-orang hebat bukan hanya berlatih lebih lama, melainkan berlatih dengan lebih sadar.
Seseorang dapat bekerja selama dua puluh tahun, tetapi sesungguhnya hanya mengulang satu tahun pengalaman sebanyak dua puluh kali.
Royce berbeda. Ia terus mengulang siklus yang sama: membuat, memeriksa, menemukan kekurangan, memperbaiki, lalu mengulanginya lagi.
Karena itu, ungkapan "cukup baik" menjadi berbahaya. Tidak jarang, "cukup baik" hanyalah cara yang lebih sopan untuk mengatakan seseorang telah berhenti bertumbuh.
Di titik inilah kisah Henry Royce bertemu dengan enam kata yang menjadi inti pemikiran Earl Nightingale:
"We become what we think about."
Kita menjadi apa yang terus kita pikirkan.
Maknanya tentu bukan sekadar membayangkan sesuatu lalu berharap kenyataan berubah dengan sendirinya.
Yang terus memenuhi pikiran akan menentukan apa yang kita perhatikan. Perhatian membentuk keputusan. Keputusan menjadi kebiasaan. Kebiasaan membangun kemampuan. Kemampuan akhirnya melahirkan karya.
Royce memikirkan presisi setiap hari. Karena itu, ia mampu melihat kekurangan yang tidak disadari orang lain.
Standar yang hidup di kepalanya kemudian menjadi standar di pabriknya, berubah menjadi standar produknya, dan pada akhirnya menjelma sebagai reputasi Rolls-Royce.
Pikiran menjadi standar.
Standar menjadi tindakan.
Tindakan menjadi karya.
Dan karya yang bertahan lama berubah menjadi warisan.
Tentu, tidak semua hal dari Royce harus ditiru. Kisah ini bukan ajakan untuk tidur di kantor atau mengabaikan kehidupan di luar pekerjaan.
Yang layak dicontoh adalah kedalaman perhatian terhadap sesuatu yang dianggap penting.
Apa yang membuat seseorang terus ingin menjadi lebih baik, bahkan ketika tidak ada yang memerintah dan tidak ada yang memberi tepuk tangan?
Perhatikan ke mana pikiran mengembara ketika tidak ada deadline. Apa yang Anda baca tanpa diminta? Apa yang membuat Anda lupa waktu? Apa yang membuat Anda gelisah ketika seseorang berkata, "Segini saja sudah cukup"?
Mungkin di situlah letak sungai Anda.
Jika tidak, pilihlah gunung, tentukan puncaknya, lalu mulai mendaki.
Sebab persoalan terbesar bukan apakah seseorang termasuk River Person atau Goal Person. Persoalan terbesar adalah tidak memiliki sungai untuk dialiri maupun gunung untuk didaki, lalu menganggap diri sedang melakukan perjalanan.
Ketika dunia mulai sunyi, perhatikan ke mana pikiran Anda pergi saat tidak ada seorang pun yang mengarahkannya.
Mungkin masa depan tidak dibentuk oleh satu peristiwa besar, melainkan oleh satu pikiran yang setiap hari kita biarkan tinggal paling lama di kepala.
Jika Earl Nightingale benar bahwa kita menjadi apa yang terus kita pikirkan, maka pertanyaan terpenting bukan lagi, "Apa yang ingin saya capai?"
Melainkan, "Apa yang setiap hari saya pelihara di dalam pikiran?"
Kita mungkin tidak dapat mengendalikan semua yang terjadi dalam hidup. Namun, kita selalu dapat memilih apa yang layak diberi tempat tinggal di pikiran kita.
Karena pada akhirnya, hidup yang kita jalani esok hari merupakan hasil dari pikiran yang kita rawat hari ini.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: