Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Harga Minyak Brent Mendekati US$91, Pasokan Global Terancam Terganggu

Harga Minyak Brent Mendekati US$91, Pasokan Global Terancam Terganggu Kredit Foto: SKK Migas
Warta Ekonomi, Jakarta -

Harga minyak mentah Brent melanjutkan penguatan dan kini mendekati level US$91 per barel. Kenaikan tersebut telah berlangsung selama empat sesi perdagangan berturut-turut, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global.

Dalam risetnya, BRI Danareksa Sekuritas menyebut ketidakpastian hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga minyak.

"Hingga kini, belum ada perkembangan berarti dalam negosiasi kedua negara," tulis BRI Danareksa Sekuritas.

Presiden AS Donald Trump juga mengatakan belum ada pembicaraan yang berlangsung dengan Iran. Di sisi lain, AS masih memberlakukan blokade laut terhadap Iran.

Situasi tersebut membuat kondisi di Selat Hormuz menjadi perhatian pasar. Jalur ini merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak dunia. Aktivitas pelayaran di kawasan tersebut masih terbatas, meski AS menyatakan Selat Hormuz telah terbuka dan ranjau yang menghambat pelayaran telah dibersihkan.

Risiko terhadap kelancaran pengiriman energi juga masih tinggi. Sepanjang bulan ini, sedikitnya delapan serangan terhadap kapal telah dilaporkan.

Baca Juga: Rupiah Tersungkur ke Rp17.862 di Tengah Ancaman Harga Minyak Dunia

Baca Juga: Prabowo Punya Target Berat Lifting Minyak 610 Ribu Bph, Strategi Bahlil Dinilai Tepat

Baca Juga: Prabowo Naikkan Asumsi Harga Minyak Mentah RI Jadi US$75 per Barel di RAPBN 2027

"Jika kondisi tersebut berlanjut, distribusi minyak melalui Selat Hormuz berpotensi terganggu dan semakin menekan pasokan global," ungkap BRI Danareksa Sekuritas.

Dari AS, sentimen positif terhadap harga minyak juga datang dari penurunan persediaan minyak mentah. Stok minyak mentah AS berkurang 328 ribu barel pada pekan lalu. Kondisi ini berbalik dari pekan sebelumnya, ketika persediaan justru melonjak 9,07 juta barel.

Penurunan stok minyak AS turut memberikan dukungan terhadap harga Brent. Dengan ketegangan geopolitik yang belum mereda dan risiko gangguan distribusi energi yang masih tinggi, harga minyak masih berpeluang bergerak menguat.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan