Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Warga RI Keluar Uang Rp100 Triliun untuk Berobat, Ciputra Life Siap Garap Peluang

Warga RI Keluar Uang Rp100 Triliun untuk Berobat, Ciputra Life Siap Garap Peluang Kredit Foto: Azka Elfriza
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Asuransi Ciputra Indonesia atau Ciputra Life melihat ruang pertumbuhan industri asuransi kesehatan masih besar. Direktur Utama Ciputra Life Hengky Djojosantoso menyebut biaya pengobatan yang dibayar langsung masyarakat dari kantong sendiri atau out-of-pocket di Indonesia telah mencapai lebih dari Rp100 triliun.

Menurut Hengky, besarnya biaya kesehatan yang masih ditanggung masyarakat secara langsung menunjukkan potensi pasar yang dapat digarap industri asuransi kesehatan.

“Kemudian prospek. Kalau kita melihat prospeknya masih sangat-sangat luas. Bahkan out of pocket biaya pengobatan Indonesia itu lebih dari Rp100 triliun,” ujar Hengky dalam Konferensi Pers Pemaparan Kinerja Keuangan Ciputra Life Tahun 2025 dan Semester I-2026 di Ciputra World, Jakarta, Jumat (21/8/2026).

Namun, Hengky mengatakan perluasan pasar tersebut harus diikuti kerja sama yang kuat antara perusahaan asuransi, nasabah, fasilitas kesehatan, dan pemangku kepentingan lain dalam ekosistem layanan kesehatan.

“Potensinya kalau itu bisa masuk ke industri asuransi, itu tentunya akan sangat-sangat baik. Tantangannya tentunya bagaimana kita bisa menjalankan kerjasama yang baik dengan ekosistem penyedia layanan kesehatan,” katanya.

Ia menilai pengembangan pasar asuransi kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan perusahaan asuransi dan nasabah. Digitalisasi layanan kesehatan melalui Satu Sehat diharapkan dapat memperkuat pengelolaan data dan koordinasi layanan, termasuk dalam pengelolaan klaim.

“Ini akan jauh lebih baik ke depan. Harapannya sih begitu,” ujar Hengky.

Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pengembangan pasar asuransi kesehatan perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga keterjangkauan perlindungan bagi masyarakat.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun (KE PPDP) OJK Ogi Prastomiyono mengatakan inflasi medis menjadi salah satu tantangan utama industri asuransi kesehatan. Pertumbuhan biaya kesehatan, menurutnya, tidak selalu diimbangi dengan kenaikan pendapatan pekerja, sementara ketidakpastian ekonomi masih membayangi.

"OJK memandang bahwa di tengah meningkatnya inflasi medis dan ketidakpastian ekonomi, akses masyarakat terhadap perlindungan kesehatan tidak hanya bergantung pada keterjangkauan premi, tetapi juga pada keberlanjutan industri asuransi dalam memberikan manfaat kepada pemegang polis," ujarnya dalam lembar jawaban tertulis RDKB Juni 2026.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, OJK menerbitkan POJK Nomor 36 Tahun 2025 guna memperkuat tata kelola penyelenggaraan produk asuransi kesehatan.

Baca Juga: Bukan Naikkan Premi, Ciputra Life Pilih Cara Ini Hadapi Biaya Medis

Baca Juga: Ciputra Life Catat Laba Rp99,3 Miliar pada 2025, Premi Semester I 2026 Tumbuh 53%

Ketentuan tersebut mencakup penguatan manajemen risiko, pengendalian biaya layanan kesehatan, serta penetapan premi berdasarkan profil risiko yang didukung perhitungan aktuaria yang memadai.

Melalui penguatan tata kelola tersebut, OJK mendorong agar kenaikan biaya kesehatan tidak serta-merta diteruskan menjadi kenaikan premi yang membebani masyarakat.

Sementara itu, potensi biaya out-of-pocket lebih dari Rp100 triliun yang disebut Ciputra Life menjadi salah satu ruang pertumbuhan pasar asuransi kesehatan. Pengembangan potensi tersebut tetap bergantung pada pengelolaan biaya layanan, klaim, serta koordinasi antarpenyelenggara dalam ekosistem kesehatan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri