Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pengungsi Gempa NTT Tembus 161 Ribu, ISPA Capai 3.721 Kasus

Pengungsi Gempa NTT Tembus 161 Ribu, ISPA Capai 3.721 Kasus Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah pengungsi akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur mencapai 161.084 jiwa pada hari kesembilan penanganan darurat. Di tengah kondisi pengungsian, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi penyakit dengan jumlah kasus tertinggi, mencapai 3.721 kasus.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan data tersebut diterima dari Kementerian Kesehatan.

“Kami mendapat laporan dari Kementerian Kesehatan bahwa kejadian penyakit tertinggi yang dilaporkan adalah ISPA, sebanyak 3.721 kasus,” kata Berton dalam konferensi pers daring, Minggu (23/8/2026).

Selain ISPA, Kementerian Kesehatan juga mencatat 15 kasus gigitan hewan penular rabies di wilayah terdampak. Kasus itu ditemukan di Kabupaten Nagekeo dan Manggarai Timur.

BNPB menyebut 11.106 tenaga kesehatan telah bertugas untuk memberikan pelayanan di daerah terdampak. Rinciannya terdiri atas 134 dokter, 5.306 perawat, 3.974 bidan, dan 1.647 tenaga kesehatan lainnya.

Namun, kebutuhan tenaga medis belum sepenuhnya terpenuhi. BNPB masih membutuhkan tambahan 133 tenaga kesehatan, antara lain 63 dokter umum, perawat umum, dokter spesialis, perawat ortopedi, perawat anestesi, dan apoteker.

Layanan kesehatan di sejumlah wilayah terdampak juga masih menghadapi gangguan. BNPB mencatat 169 puskesmas terdampak gempa, dengan 101 puskesmas telah beroperasi penuh, 49 puskesmas beroperasi sebagian, dan 19 lainnya belum dapat memberikan layanan.

“Total puskesmas terdampak akibat gempa bumi ini sebanyak 169 unit, dengan rincian 101 telah beroperasi penuh, 49 beroperasi sebagian, dan 19 belum beroperasi,” ujar Berton.

Untuk menjaga layanan kesehatan bagi pengungsi, BNPB membantu mendirikan tenda berukuran 6x12 meter sebagai fasilitas kesehatan dan puskesmas sementara. Delapan tenda telah didirikan di delapan titik di Kabupaten Sikka. Sementara di Kabupaten Manggarai terdapat 12 tenda, dengan empat tenda digunakan untuk mendukung pelayanan rumah sakit umum.

Di sisi lain, jumlah korban meninggal akibat gempa bertambah menjadi 91 orang, atau naik empat orang dibandingkan sehari sebelumnya. BNPB mencatat 1.286 warga mengalami luka-luka.

Baca Juga: Korban Meninggal Gempa NTT Bertambah Jadi 91 Orang

Baca Juga: Warga NTT: ‘Ini Baru Pemimpin’, Dedi Mulyadi Disebut Berani Malu

Baca Juga: Viral Ucapan Menterinya Prabowo 'Remehkan' Gempa di NTT: 5,8-5,6 Itu Makanan Sehari-hari

Berton mengatakan 51% korban meninggal akibat dampak langsung gempa, seperti tertimpa reruntuhan bangunan. Sementara 49% korban meninggal akibat dampak tidak langsung.

“51% korban dinyatakan meninggal disebabkan dampak langsung dari gempa seperti tertimpa reruntuhan bangunan, sedangkan sisanya 49% meninggal disebabkan dampak tidak langsung,” katanya.

Gempa susulan juga masih berlangsung. Hingga Minggu, BNPB mencatat 5.688 gempa susulan sejak gempa utama, dengan 130 gempa di antaranya dirasakan warga pada hari yang sama.

“Sampai hari ini mencapai 5.688 kali magnitude terbesar adalah 6,2 dan yang terkecil adalah 1,1. Gempa susulan yang dirasakan warga saat ini, hari ini sebanyak 130 kali. Rangkaian gempa susulan menunjukkan pola emporal yang belum sederhana,” ujar Berton

BNPB memperkirakan gempa susulan masih berpotensi terjadi selama sekitar tiga hingga empat minggu setelah gempa utama.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dian Ihsan