Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Asap Karhutla Indonesia Berdampak ke Malaysia, Kasus Asma Naik 259 Persen

Asap Karhutla Indonesia Berdampak ke Malaysia, Kasus Asma Naik 259 Persen Kredit Foto: Antara/Auliya Rahman
Warta Ekonomi, Jakarta -

Malaysia mencatat lonjakan kasus gangguan pernapasan setelah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia menyebar ke sejumlah wilayah. Kasus asma meningkat 259 persen, sedangkan infeksi saluran pernapasan atas (URTI) naik 124 persen.

Menteri Kesehatan Malaysia Dzulkefly Ahmad mengatakan kasus URTI meningkat dari 1.637 menjadi 3.674 kasus. Sementara kasus asma naik dari 61 menjadi 219 kasus.

"Kasus infeksi saluran pernapasan atas (URTI) tercatat paling tinggi yaitu 3.674 kasus, meningkat dari 1.637 kasus, sementara kasus asma mencapai 219 kasus dibandingkan dengan 61 kasus," kata Dzulkefly, dikutip The Star.

Di sisi lain, kasus konjungtivitis justru mengalami penurunan tujuh persen. Jumlah kasus tercatat 146 dibandingkan sebelumnya 157 kasus.

Dzulkefly meminta masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan selama kondisi udara berkabut. Imbauan tersebut terutama ditujukan kepada penderita asma dan warga dengan gangguan pernapasan.

"Pastikan asupan cairan mencukupi, hindari paparan yang tidak perlu, dan ikuti pedoman yang dikeluarkan oleh kementerian," ujarnya.

Kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia juga masuk kategori tidak sehat. Pada Minggu (23/8) pukul 08.00, Serian di Sarawak mencatat indeks polusi tertinggi dengan angka 197, disusul Kuching 185 dan Sri Aman 178.

Baca Juga: Asap Karhutla Meluas di Malaysia-Singapura, BNPB Minta Negara Jiran Bersama Atasi Asap

Kabut asap tersebut muncul setelah karhutla melanda sejumlah wilayah Indonesia, terutama Sumatra dan Kalimantan. Pemerintah Indonesia telah mengerahkan pemadam kebakaran, BNPB, TNI, Polri, serta menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca untuk mengendalikan kebakaran.

Kementerian Lingkungan Hidup juga meminta pemerintah daerah memperkuat patroli, pencegahan, pembasahan lahan gambut, serta pemantauan tinggi muka air tanah dan sekat kanal. Langkah tersebut dilakukan untuk menekan perluasan kebakaran dan dampak asap lintas batas.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy

Tag Terkait: