Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Berpeluang Menguat Seiring Membaiknya Sentimen Eksternal

IHSG Berpeluang Menguat Seiring Membaiknya Sentimen Eksternal Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan seiring membaiknya sentimen eksternal dan dukungan dari kondisi domestik. Meski sebelumnya mengalami koreksi, secara teknikal IHSG masih berada dalam tren penguatan.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta menyebutkan level support IHSG berada di 6.454 dan 6.358, sementara resistance berada di 6.552 dan 6.654.

"Secara teknikal, walaupun telah terjadi koreksi wajar, pergerakan IHSG secara garis besar masih dalam keadaan tren penguatan," ujar Nafan dalam riset hariannya, Rabu (26/8/2026).

Ia menjelaskan, sejumlah indikator teknikal turut memberikan sinyal positif. Moving Average (MA) 20 dan 60 telah membentuk positive crossover, sedangkan indikator Stochastics K_D dan Relative Strength Index (RSI) juga menunjukkan sinyal positif. Namun demikian, investor perlu mencermati volume perdagangan yang masih menunjukkan tren penurunan.

Dari sisi aliran dana, pasar saham domestik masih menghadapi tekanan jual asing. Berdasarkan data yang disampaikan, daily net foreign sell IHSG mencapai Rp556,22 miliar, sedangkan secara year to date (ytd) tercatat net foreign sell sebesar Rp96,41 triliun. Sepanjang tahun berjalan, IHSG juga masih mencatat kinerja negatif 24,81 persen.

Di tengah kondisi tersebut, investor disarankan tetap selektif dalam menentukan strategi investasi. Fokus dapat diarahkan pada saham-saham dengan fundamental solid dan valuasi yang relatif murah, terutama emiten yang mulai menunjukkan indikasi pembalikan tren. Manajemen risiko juga perlu diterapkan secara disiplin.

Sentimen eksternal menjadi salah satu faktor yang berpotensi memberikan dorongan bagi IHSG. Wall Street sebelumnya ditutup menguat, didukung oleh technical rebound saham teknologi, penurunan harga minyak, serta penguatan pasar obligasi.

Baca Juga: Saham-saham Bank Big Caps Kompak Ambruk, IHSG Ikut Tertekan

Baca Juga: IHSG Menguat 0,37% di Akhir Pekan, Investor Asing Borong Saham BBRI, TPIA, hingga BBCA

Baca Juga: Saham Bank Mandiri Alami Tekanan di Sesi 1 Perdagangan BEI

Penurunan harga minyak menjadi katalis positif bagi pasar karena berpotensi meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Harga Brent dan crude tercatat turun sekitar 3–4 persen. Kondisi tersebut turut dipengaruhi oleh perluasan tekanan ekonomi Amerika Serikat terhadap Iran melalui Operation Economic Outcast yang menyasar individu, entitas, dan kapal yang berkaitan dengan aktivitas Iran, termasuk perdagangan minyak.

Tekanan ekonomi terhadap Iran tersebut diharapkan dapat membuka ruang diplomasi. Pasar juga mencermati pembicaraan mengenai kemungkinan pembentukan koridor navigasi sementara di Selat Hormuz, yang berpotensi menurunkan risiko gangguan terhadap salah satu jalur pengiriman minyak strategis dunia.

Sementara itu, pasar obligasi Amerika Serikat turut menguat seiring penurunan imbal hasil atau yield Treasury. Pergerakan tersebut dipengaruhi rumor mengenai penggunaan dana pada Treasury General Account (TGA) hingga sekitar USD1 triliun yang dinilai dapat membantu menekan yield jangka panjang.

Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) serta arah kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve. Pasar juga akan mencermati Jackson Hole Symposium yang berlangsung mulai Kamis hingga Sabtu.

Apabila inflasi kembali menunjukkan tekanan atau pejabat The Fed memberikan sinyal kebijakan yang lebih hawkish, yield obligasi berpotensi kembali meningkat. Kondisi tersebut dapat mengurangi momentum penguatan saham-saham teknologi dan berpotensi memengaruhi sentimen pasar secara global.

Dari dalam negeri, stabilitas kebijakan moneter masih menjadi salah satu penopang pasar. Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen, sementara ekspektasi terhadap pertumbuhan kredit yang tetap solid dinilai dapat memberikan dukungan bagi saham sektor perbankan dan emiten yang berorientasi pada perekonomian domestik.

Dengan mempertimbangkan kondisi teknikal dan fundamental tersebut, investor disarankan melakukan akumulasi secara selektif pada saham pilihan, khususnya emiten dengan fundamental kuat, valuasi menarik, serta memiliki peluang pembalikan tren.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan