Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Perang Iran Makin Besar, AS Disebut Harus ‘Membayar’ Anak Muda agar Mau Jadi Tentara

Perang Iran Makin Besar, AS Disebut Harus ‘Membayar’ Anak Muda agar Mau Jadi Tentara Kredit Foto: Antara/M Risyal Hidayat
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat dikabarkan mulai menghadapi kesulitan merekrut anak-anak muda untuk menjadi tentara di tengah perang Washington dengan Iran di Timur Tengah. Bahkan, muncul wacana menggunakan penghapusan utang sebagai insentif agar generasi muda Amerika bersedia bergabung dengan militer dan ditempatkan di wilayah konflik.

Gagasan tersebut disampaikan mantan perwira militer Kanada, AJ Jaff, melalui kolom opininya di Jerusalem Post berjudul The war with Iran will not be won through airstrikes, so what's left?. Jaff yang rutin menulis mengenai konflik Timur Tengah menilai pendekatan patriotik untuk mendorong generasi muda Amerika bergabung dengan militer mulai kehilangan daya tarik.

Menurut Jaff, semakin banyak anak muda Amerika menolak bergabung dengan militer, terutama karena sikap kritis mereka terhadap perang yang dilakukan Washington. Ia menyebut kondisi tersebut menjadi persoalan serius jika Amerika Serikat benar-benar membutuhkan personel dalam jumlah besar untuk menjalankan operasi darat di Iran.

“Angka perekrutan saat ini berada di bawah jumlah yang dibutuhkan untuk invasi darat ke Iran,” tulis Jaff. Ia memperkirakan operasi darat melawan 31 komando provinsi Iran dan Doktrin Pertahanan Mosaik membutuhkan sekitar 750 ribu hingga 1,5 juta tentara Amerika.

“Saat ini, jumlah personel aktif Angkatan Darat AS hanya sekitar 452 ribu. Jelas, hitung-hitungannya tidak masuk akal,” lanjutnya dalam kolom tersebut.

Jaff kemudian menawarkan solusi yang menurutnya dapat berkaca pada sejarah Amerika, tetapi bukan dalam bentuk wajib militer seperti pada era perang dunia. Ia mengusulkan program perekrutan dengan insentif penghapusan utang yang dikelola pemerintah federal untuk menarik lebih banyak sukarelawan.

“Rata-rata warga Amerika berusia 18 hingga 34 tahun menanggung utang non-hipotek, yang mencakup pinjaman mahasiswa, saldo kartu kredit, kredit kendaraan, dan pinjaman pribadi, dengan nilai lebih dari 40 ribu dolar AS,” tulis Jaff. Ia bahkan menyebut sejumlah estimasi menempatkan total utang tersebut bisa mencapai 100 ribu dolar AS.

Menurut Jaff, Pentagon dapat menawarkan pelunasan penuh pinjaman mahasiswa, saldo kartu kredit, dan utang lainnya setelah seseorang menyelesaikan masa tugas selama 24 atau 36 bulan. Skema tersebut, ditambah perluasan cakupan GI Bill, dinilai dapat meningkatkan minat anak muda untuk menjadi tentara.

Jaff menyebut Amerika Serikat sebelumnya pernah menggunakan berbagai insentif ketika membutuhkan tambahan personel militer. “Perang Dunia II menawarkan The GI Bill, Perang Vietnam menawarkan penundaan wajib militer bagi mahasiswa, sedangkan perang pasca-9/11 menawarkan bonus perekrutan dan jalur kewarganegaraan,” paparnya.

Baca Juga: Iran Ejek Militer AS sebagai ‘Tentara Hollywood’: Klaim Kekuatan Amerika dan Israel Terbongkar

“Perang melawan Iran nantinya perlu menawarkan keringanan utang,” tambah Jaff. Ia menilai kondisi ekonomi warga Amerika berusia 20-an dan 30-an yang terlilit utang membuat skema tersebut menjadi salah satu mekanisme paling efektif untuk menarik sukarelawan bagi Pentagon dan pemerintahan Donald Trump.

Jaff mengakui gagasan tersebut dapat menimbulkan persoalan moral karena mengaitkan kewajiban militer dengan kondisi ekonomi masyarakat. Namun, menurut dia, negara pada akhirnya akan menggunakan insentif yang dianggap efektif untuk membentuk kekuatan militer sesuai kebutuhan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy