Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Strategi Simplifa.ai dan Perbankan Melawan Manipulasi Data

Strategi Simplifa.ai dan Perbankan Melawan Manipulasi Data Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kejahatan di sektor keuangan memasuki babak baru yang semakin mengkhawatirkan. Jika sebelumnya pelaku penipuan atau fraudster mengandalkan manipulasi dokumen secara sederhana, kini mereka memanfaatkan kecanggihan kecerdasan buatan (AI) untuk memalsukan data perbankan dengan tingkat kemiripan yang semakin sulit dibedakan dari dokumen asli.

Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sophia Isabella Wattimena, mengatakan perkembangan AI telah bergerak dari traditional AI menuju generative AI hingga agentic AI. Saat ini, sekitar 23% perusahaan disebut telah menggunakan agentic AI. Angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi lebih dari 70% dalam dua tahun ke depan.

Namun, percepatan adopsi AI tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan tata kelola. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kemampuan teknologi yang berkembang pesat dan kemampuan organisasi dalam mengidentifikasi, mengendalikan, serta mengantisipasi berbagai risiko yang muncul.

“Artinya kemampuan teknologi berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kesiapan organisasi itu sendiri untuk mengelolanya,” ujar Sophia di Jakarta, dikutip Jumat (11/9/2026).

Manajer Madya Direktorat Penanganan Aktivitas Keuangan Ilegal dan Penipuan Transaksi Keuangan OJK; Thomas Airlangga, mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah secara drastis cara pelaku melakukan fraud. Jika sebelumnya praktik fraud masih dapat ditelusuri melalui dokumen fisik atau aplikasi yang dimanipulasi, kini pelaku dapat beroperasi tanpa tatap muka dengan memanfaatkan data yang tersebar di berbagai kanal.

“Sekarang fraud-nya sudah tidak kelihatan, tidak ada aplikasinya, semuanya digital. Dari tatap muka ke tanpa muka, kemudian dari dokumen ke data dan dari kejadian ke skala,” ungkap Thomas.

Menurut Thomas, perubahan tersebut membuat pekerjaan manajemen risiko menjadi semakin kompleks. Fraud yang sebelumnya dapat ditangani sebagai kejadian individual kini dapat berkembang menjadi serangan berskala besar sebelum institusi menyadarinya.

Risikonya pun semakin meluas, mulai dari risiko kredit, siber, dan pencucian uang hingga risiko reputasi. Bahkan, pelaku kejahatan dapat berada di luar wilayah Indonesia, sementara korbannya berada di dalam negeri.

Di sisi lain, CEO dan Co-Founder Simplifa.ai, Gema Buana Putra, menjelaskan perubahan modus fraud yang semakin canggih membuat industri keuangan menghadapi perlombaan teknologi dengan para pelaku kejahatan. Karena itu, perusahaan harus membangun sistem deteksi yang mampu terus berkembang mengikuti perubahan pola fraud.

Menurut Gema, Simplifa.ai yang beroperasi dengan model Software as a Service (SaaS) terus memperbarui sistem berdasarkan pola fraud baru yang ditemukan dari klien serta perkembangan perilaku transaksi.

Pasalnya, sejumlah indikator yang digunakan dalam proses verifikasi dapat berubah dari waktu ke waktu, mulai dari kebijakan bank, biaya administrasi, pola bank fee, hingga karakteristik dokumen.

“Kita sekarang juga berhadapan sama fraudster yang pakai AI. Maka kita tidak bisa lagi perang pakai tangan kosong. Karena itu, sistem yang dibangun hari ini tidak bisa dibiarkan bekerja dengan pola yang sama selama bertahun-tahun,” terang Gema.

Baca Juga: BATIC 2026 Kumpulkan 2.700 Delegasi, Dorong Kolaborasi Ekosistem Digital Asia Pasifik

Baca Juga: KPK Ajukan Tambahan Rp774 Miliar, Prioritaskan Digital Forensik hingga Pengawasan Daerah

Pertarungan melawan fraud di era digital pada akhirnya bukan lagi sekadar soal siapa yang memiliki teknologi paling canggih. Kecepatan dalam mendeteksi perubahan pola dan merespons ancaman menjadi faktor yang semakin menentukan.

Di tengah munculnya fraudster berbasis algoritma AI, penerapan AI analitis, penguatan tata kelola, serta pembaruan sistem secara dinamis menjadi bagian penting dari strategi industri keuangan untuk menjaga integritas data, memperkuat manajemen risiko, dan membangun ketahanan sektor keuangan

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: