Indonesia Butuh 2,7 Juta Talenta Digital, Ngalup dan Garuda Spark Akselerasi Lewat di JHIC 2026
Kredit Foto: Istimewa
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan Indonesia memiliki 12 juta talenta digital pada 2030. Saat ini, jumlah talenta digital berada di sekitar 9,3 juta sehingga masih dibutuhkan tambahan sekitar 2,7 juta talenta.
Untuk mengejar kebutuhan tersebut, Komdigi menargetkan pencetakan 450 ribu talenta digital setiap tahun. Target itu dinilai membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, industri, dan ekosistem digital.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Jagoan Hosting Innovation Competition (JHIC) 2026 di Yogyakarta. Sebanyak 1.800 talenta digital mengikuti kompetisi yang mendorong peserta mengembangkan solusi berbasis teknologi.
JHIC 2026 mencakup tiga kategori, yakni Web Development, Digital Business Challenge, serta Penggerak Inovasi Digital bagi guru dan tenaga pendidik. Peserta juga mendapatkan pelatihan, mentoring, dan kesempatan membangun jejaring dengan profesional industri teknologi.
Program yang digelar bersama Ngalup.co dan Garuda Spark tersebut tidak hanya diarahkan sebagai kompetisi, tetapi juga ruang pengembangan talenta dan solusi digital.
Direktur Ngalup.co Irfan Rahmad Widiutomo mengatakan, pihaknya berperan sebagai accelerator dan ecosystem builder untuk mendorong kolaborasi menghasilkan solusi yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
“Peran Ngalup.co sebagai accelerator adalah membantu perusahaan mengubah kolaborasi menjadi impactful IP. Jadi bukan hanya menghasilkan program atau event, tetapi bagaimana dari kolaborasi tersebut lahir sesuatu yang memberikan impact dan bisa terus dikembangkan,” ujar Irfan.
Salah satu hasil kolaborasi tersebut adalah Winasis, Learning Management System (LMS) yang dikembangkan Jagoan Hosting bersama Ngalup.co untuk mendukung pelatihan dan sertifikasi guru, khususnya guru SMA/SMK di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Winasis diperkenalkan dalam pembukaan JHIC 2026 di Universitas Negeri Yogyakarta. Sebanyak 4.600 kepala sekolah dan guru se-DIY berkesempatan mencoba platform tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY Raden Suci Rohmadi menilai kolaborasi pemerintah, pendidikan, dan industri diperlukan untuk memperkuat kompetensi sumber daya manusia.
“Transformasi digital di dunia pendidikan membutuhkan kesiapan sumber daya manusia yang mampu memanfaatkan teknologi secara optimal. Karena itu, kolaborasi seperti ini penting untuk membuka akses pengembangan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan saat ini,” ujarnya.
Baca Juga: Telegram hingga Lazada Jadi Platform Berisiko Tinggi, Komdigi Larang Anak di Bawah 16 Tahun Akses
JHIC 2026 turut didukung Komdigi. Melalui kompetisi dan pembelajaran, peserta didorong mengembangkan kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, serta memahami kebutuhan industri digital.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan talenta digital tidak hanya membutuhkan peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga ruang untuk menghubungkan talenta dengan kebutuhan pendidikan dan industri serta menghasilkan solusi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: