Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pengamat: Jangan Berharap PAN dan Golkar Setia Dukung Prabowo di Pilpres 2029

Pengamat: Jangan Berharap PAN dan Golkar Setia Dukung Prabowo di Pilpres 2029 Kredit Foto: YouTube Sekretariat Presiden
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dukungan partai politik terhadap Prabowo Subianto untuk Pilpres 2029 dinilai belum bisa dipastikan bertahan, termasuk dari Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Golkar yang saat ini berada dalam pemerintahan.

Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai terlalu dini jika ada anggapan hanya Gerindra, PAN, dan Golkar yang akan konsisten berada di belakang Prabowo hingga kontestasi Pilpres 2029.

Menurut Jamiluddin, dinamika politik masih sangat panjang dan sejumlah faktor dapat mengubah peta dukungan partai politik menjelang pemilihan presiden.

“Politik itu dinamis. Hingga mendekati pertengahan 2028 masih banyak faktor yang akan mempengaruhi partai politik untuk tetap atau berubah dukungan kepada Prabowo Subianto,” kata Jamiluddin kepada Warta Ekonomi.

Salah satu faktor utama yang akan menentukan arah dukungan partai, menurut dia, adalah tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo serta elektabilitas sang presiden.

Jika kepuasan dan elektabilitas Prabowo mengalami penurunan signifikan, partai politik dinilai akan kembali menghitung peluang politik sebelum memutuskan kandidat yang akan diusung pada Pilpres 2029.

“Kalau kepuasan dan elektabilitas Prabowo terjun payung, tentu partai politik selain Gerindra akan berpikir untuk mendukung dan mengusung Prabowo,” ujarnya.

Jamiluddin mengatakan partai politik pada dasarnya akan cenderung mendukung kandidat yang memiliki peluang besar untuk memenangkan pemilu.

Karena itu, menurut dia, sulit mengharapkan adanya loyalitas permanen partai politik terhadap seorang calon presiden. Dukungan politik lebih banyak ditentukan oleh kepentingan strategis masing-masing partai.

"Suka tidak suka, semua partai ingin berkuasa. Karena itu, tidak ada kesetiaan partai politik terhadap kandidat capres, selain kesamaan kepentingan untuk menang dan berkuasa,” katanya.

Kondisi tersebut, lanjut Jamiluddin, tidak hanya berlaku terhadap Prabowo. Pola yang sama dapat terjadi pada seluruh kandidat yang akan bertarung dalam Pilpres 2029.

Selain mempertimbangkan peluang kemenangan, partai politik juga akan menghitung potensi keuntungan politik apabila mendukung kandidat tertentu.

Jamiluddin mencontohkan, kesepakatan politik dapat berkaitan dengan peluang mendapatkan posisi di pemerintahan, mulai dari kursi menteri, wakil menteri, kepala badan hingga komisaris BUMN.

“Tanpa adanya kesepakatan politik, tampaknya kecil kemungkinan partai politik mendukung dan mengusung kandidat tertentu,” jelasnya.

Menurut dia, faktor tersebut membuat peta koalisi menuju Pilpres 2029 masih sangat terbuka. Partai yang saat ini berada di barisan pendukung pemerintah belum tentu mengambil posisi yang sama ketika momentum pencalonan presiden tiba.

Jamiluddin menilai Prabowo masih memiliki waktu untuk menjaga tingkat kepuasan publik dan elektabilitasnya hingga memasuki tahapan pencalonan presiden.

Jika dua indikator tersebut tetap tinggi dan Prabowo dinilai memiliki peluang besar untuk kembali memenangkan pemilu, partai politik akan memiliki insentif lebih kuat untuk mempertahankan dukungan.

Sebaliknya, jika elektabilitas dan tingkat kepuasan publik menurun tajam, partai politik berpotensi mencari alternatif kandidat yang dianggap lebih kompetitif.

Karena itu, Jamiluddin mengingatkan agar dukungan PAN dan Golkar kepada Prabowo saat ini tidak langsung dianggap sebagai jaminan bahwa kedua partai tersebut akan tetap bersama hingga Pilpres 2029.

“Jangan berharap ada partai politik yang setia terhadap calon presiden, termasuk PAN dan Golkar. Kamus setia itu hanya ada dalam tataran ideal, tapi tampaknya tak berlaku dalam politik Indonesia,” pungkasnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat