Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Era AI dalam Arsitektur: Percepat Proses Desain, Sentuhan Manusia Tetap Jadi Penentu

Era AI dalam Arsitektur: Percepat Proses Desain, Sentuhan Manusia Tetap Jadi Penentu Kredit Foto: Cisco
Warta Ekonomi, Jakarta -

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) kian masif di industri arsitektur dan desain interior, memicu diskusi krusial mengenai masa depan profesi desainer di tengah pesatnya otomatisasi.

Meski teknologi AI kini mampu membantu eksplorasi konsep, mempercepat iterasi visual, hingga pengembangan desain, para praktisi sepakat bahwa intuisi, pemahaman konteks, dan sentuhan manusia belum dapat digantikan oleh mesin.

Dinamika ini menjadi sorotan utama dalam diskusi lintas negara "MM Talk: AI Webinar" yang diselenggarakan oleh MM Galleri pada 19 September lalu.

Diskusi ini mempertemukan desainer, arsitek, dan praktisi material dari Indonesia dengan Founder Studio Tim Fu asal London, Inggris, guna membedah batasan antara wilayah kerja mesin dan kreativitas manusia.

Tim Fu, arsitek yang dikenal luas lewat integrasi AI dan pendekatan komputasional, memaparkan bahwa teknologi ini berfungsi sebagai alat akselerasi yang signifikan.

Menurutnya, AI memungkinkan arsitek mengeksplorasi ribuan kemungkinan bentuk, materialitas, dan ide awal dalam waktu yang jauh lebih singkat. Namun, ia menekankan bahwa hasil akhir sangat bergantung pada kualitas arahan (prompting) dari desainer itu sendiri.

“Mengarahkan AI selalu lebih baik daripada membiarkannya bekerja sendiri. Pada tahap perkembangannya saat ini, AI masih membutuhkan banyak input dari manusia untuk memberikan hasil yang relevan dan fungsional,” jelas Tim.

Lebih jauh, ia mencatat bahwa AI mulai membuka peluang baru dalam fabrikasi digital dan robotik. Kombinasi AI dengan mesin CNC memungkinkan arsitek menciptakan bentuk-bentuk fasad atau struktur yang kompleks, termasuk eksplorasi pemotongan material keras seperti batu alam yang sebelumnya sulit dilakukan secara manual.

Pandangan bahwa AI hanyalah alat (tool) juga diamini oleh praktisi dalam negeri. Fotografer arsitektur Mario Wibowo menilai kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan peran arsitek sepenuhnya tidaklah beralasan.

"Arsitek tidak mungkin tergantikan oleh AI. Kecepatan teknologi memang terus meningkat, namun setiap pengguna bangunan memiliki kebutuhan, kebiasaan, dan preferensi yang sangat spesifik,” ungkap Mario.

Ia menambahkan bahwa sensitivitas untuk membaca kebutuhan personal klien dan memutuskan desain mana yang paling relevan tetap menjadi ranah eksklusif manusia.

Sementara itu, Peter S. Tjioe, Founder & Creative Director MM Galleri Group, menyoroti jarak antara visualisasi digital dan realisasi fisik bangunan. Proses mengubah gambar hasil render AI menjadi karya fisik menuntut pemahaman mendalam tentang karakter material, teknik craftsmanship, dan kelayakan struktural.

“Teknologi bisa menjadi alat yang sangat powerful, tetapi sebuah karya arsitektur tetap membutuhkan jiwa dan sense of beauty. Ada rasa dan nilai artistik yang hanya bisa datang dari manusia,” kata Peter.

Dalam praktiknya, perkembangan desain berbasis komputasi ini menuntut kesiapan di sektor produksi material.

Inovasi fabrikasi fisik harus mampu mengimbangi kompleksitas desain yang dihasilkan AI. Sebagai contoh, pergeseran tren menuju bentuk-bentuk organik dan parametrik yang sering dihasilkan perangkat lunak desain kini direspons oleh industri material melalui teknologi seperti ultra-thin stone dan Bended Marble Technology (teknologi pembengkokan marmer).

Hengky Djaja, Director MM Galleri Jakarta & Bali, menyebutkan bahwa pemahaman material yang baik menjadi jembatan antara ide digital dan kenyataan fisik.

Melalui forum-forum diskusi terbuka seperti ini, ekosistem industri arsitektur diharapkan dapat terus beradaptasi tidak secara membabi-buta menyerahkan proses pada teknologi, melainkan memanfaatkannya untuk memperluas batas kreativitas tanpa kehilangan esensi kemanusiaan dalam setiap rancangan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat