Kredit Foto: Uswah Hasanah
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) membukukan kinerja positif pada semester I 2026. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp1,10 triliun, melonjak 56,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp702 miliar.
Direktur Astra Agro Lestari Tingning Sukowignjo mengatakan, pertumbuhan kinerja tersebut ditopang oleh konsistensi perusahaan dalam menjaga efisiensi operasional, mengendalikan biaya, serta meningkatkan produktivitas di tengah berbagai tantangan industri sawit.
“Capaian ini menunjukkan pentingnya konsistensi dalam menjalankan operational excellence, kontrol belanja perusahaan, menjaga efisiensi, dan melakukan continuous improvement di seluruh lini operasional,” ujar Tingning dalam Astra Media Day 2026 di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Berdasarkan laporan perusahaan, pendapatan bersih Astra Agro pada semester I 2026 mencapai Rp15,3 triliun, tumbuh 5,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp14,45 triliun. Sejalan dengan kenaikan laba, laba per saham (earning per share/EPS) juga meningkat 56,5% menjadi Rp571 per saham.
Menurut Tingning, kinerja tersebut turut didukung kondisi pasar minyak nabati global dan meningkatnya permintaan domestik terhadap produk sawit. Konsumsi minyak sawit dalam negeri hingga Juni 2026 tumbuh sekitar 5,5% secara tahunan, terutama didorong kebutuhan pangan dan penyerapan biodiesel.
Dari sisi operasional, produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Astra Agro pada semester I 2026 tercatat 558 ribu ton. Sementara volume penjualan CPO dan produk turunannya mencapai 898 ribu ton, naik dari 883 ribu ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, di balik pertumbuhan tersebut, Astra Agro masih menghadapi tantangan produktivitas tanaman yang semakin menua. Kondisi ini menjadi salah satu perhatian utama perusahaan untuk menjaga keberlanjutan produksi dalam jangka panjang.
Untuk mengantisipasinya, Astra Agro mempercepat program peremajaan tanaman atau replanting dengan memperluas area peremajaan dan menggunakan bibit unggul hasil pengembangan Research & Development Astra Agro.
Pada 2025, perusahaan merilis tiga varietas unggul baru yang memiliki ketahanan terhadap penyakit Ganoderma, yakni DxP AAL Nirmala MRG, DxP AAL Lestari MRG, dan DxP AAL Sejahtera MRG. Ketiga varietas tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas perkebunan ke depan.
Selain meningkatkan produktivitas, Astra Agro memperkuat agenda keberlanjutan melalui efisiensi energi dan pengurangan emisi. Pada 2025, perusahaan mencatat penurunan emisi Scope 1 dan Scope 2 sebesar 35,69% dibandingkan baseline 2019. Penggunaan energi terbarukan mencapai 92,3%, sementara pemanfaatan limbah padat mencapai 100%.
Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui teknologi methane capture yang mengolah limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) menjadi biogas sebagai sumber energi terbarukan.
Baca Juga: OLX Astra Andalkan 8,5 Juta Pengunjung Bulanan untuk Dorong Bisnis Mobil Bekas
Baca Juga: Astra International (ASII) Perketat Investasi di Luar Tiga Bisnis Inti
Hingga semester I 2026, tiga fasilitas methane capture Astra Agro di Riau telah menghasilkan pemanfaatan biogas sekitar 8,01 juta Nm³ dan berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 39.573 ton CO₂ ekuivalen.
Tingning menegaskan Astra Agro akan terus menjalankan strategi “Performing & Transforming Sustainability” dengan menyeimbangkan pencapaian kinerja bisnis dan transformasi jangka panjang.
“Peningkatan produktivitas, efisiensi sumber daya, pengembangan sumber daya manusia, serta pengelolaan lingkungan merupakan pondasi untuk keberlanjutan bisnis,” ujarnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: