Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pemimpin Bukan yang Tahu Segalanya, tetapi yang Mau Mendengar

Oleh: Edhy Aruman

Pemimpin Bukan yang Tahu Segalanya, tetapi yang Mau Mendengar Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemimpin terbaik bukan yang mengetahui segalanya, tetapi yang tetap terjaga untuk mendengar.

Steve Cahillane memulai paginya dengan secangkir kopi.

Mungkin agar lebih terjaga. Ironisnya, bagi seorang CEO, bahaya terbesar bukan mengantuk, melainkan merasa sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Riset menunjukkan kopi memang tidak sesederhana urusan kafein. Studi Doğan dan Atsız melihat kopi sebagai bagian dari rutinitas kehidupan: bukan hanya untuk stimulasi, tetapi juga pengalaman, kesenangan, interaksi sosial, dan makna yang menyertai kebiasaan itu.

Secangkir kopi, dengan demikian, bisa menjadi ritual kecil untuk memulai hari.

Setelah kopi, Cahillane melakukan peregangan, lalu berlari. Sebelum pukul tujuh pagi, CEO Kraft Heinz itu sudah menyiapkan tubuh dan pikirannya untuk perjalanan panjang.

Beberapa jam kemudian, tantangannya bukan lagi menjaga napas atau langkah, melainkan menjaga dirinya tetap mendengar.

Ketika ditanya nasihat kepemimpinan terbaik yang pernah diterimanya, Cahillane tidak bicara strategi atau keberanian mengambil keputusan. Ia hanya mengatakan, “Humble enough to listen.”

Cukup rendah hati untuk mendengarkan.

Nasihat itu sederhana. Sampai seseorang menjadi bos.

Semakin tinggi jabatan, semakin hati-hati orang berbicara. Masalah diperhalus, kritik dibungkus, dan kabar buruk berubah menjadi “sedikit masukan”—ungkapan kantor yang sering berarti masalahnya tidak sedikit sama sekali.

Di situlah paradoks kepemimpinan muncul:

Semakin tinggi seorang pemimpin, semakin banyak informasi yang datang kepadanya—tetapi belum tentu semakin banyak kebenaran yang ia dengar.

Riset organisasi mengenalnya sebagai employee silence: orang mengetahui persoalan, bahkan mungkin solusinya, tetapi memilih diam ketika berbicara terasa berisiko.

Maka ruang rapat yang tenang belum tentu berarti semuanya baik-baik saja. Bisa jadi orang-orang sudah belajar bahwa diam lebih aman.

Itulah mengapa Cahillane berusaha tetap approachable, terutama ketika kabar yang harus didengar menyangkut keselamatan.

Baginya, worker safety adalah kewajiban moral: seseorang yang datang bekerja pada pagi hari harus bisa kembali kepada keluarganya dengan sehat dan selamat.

Bayangkan seseorang menutup pintu rumah pagi tadi. Mungkin ia mencium anaknya dan berkata, “Sampai nanti.”

Perusahaan ikut bertanggung jawab agar dua kata itu menjadi kenyataan.

Satu insiden mungkin hanya satu titik merah dalam laporan. Tetapi di sebuah rumah, titik merah itu adalah seseorang yang ditunggu pulang.

Cahillane juga disiplin memastikan rapat selesai tepat waktu. Terdengar remeh, sampai kita mengingat berapa banyak rapat satu jam yang membutuhkan 60 menit hanya untuk memutuskan bahwa kita membutuhkan rapat lagi.

Menariknya, jika tidak menjadi CEO, Cahillane ingin menjadi guru sejarah SMA sekaligus pelatih lari dan cross country.

Seorang pelatih tidak berlari menggantikan atletnya. Ia mengamati, mendengar, mengoreksi, lalu membantu atlet menemukan langkahnya sendiri.

Begitu pula pemimpin.

Tugasnya bukan membuat orang terus membutuhkan dirinya, tetapi membuat mereka semakin mampu tanpa dirinya. Bukan menjadi suara paling keras, tetapi memastikan suara paling pelan masih berani terdengar.

Di situlah secangkir kopi Cahillane mendapatkan makna berbeda.

Kopi mungkin membantu seorang pemimpin membuka mata. Tetapi kerendahan hati membuatnya tetap membuka telinga.

Sebab pemimpin yang terjaga bukan yang mengetahui semuanya. Ia masih bersedia mendengar sesuatu yang membuktikan dirinya salah.

Pada akhirnya, target akan berganti dan kalender kembali dipenuhi rapat. Tetapi ada manusia yang ikut berlari bersama perusahaan—dan seseorang menunggu mereka di rumah.

Perusahaan memang harus terus berlari. Tetapi manusia yang menjalankannya tetap harus bisa pulang.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: