Atasi Overcapacity hingga Paradigma Sekedar Jera, Lapas Didorong jadi Ruang Pemberdayaan
Kredit Foto: Istimewa
Persoalan lembaga pemasyarakatan (lapas) yang mengalami overcapacity dinilai perlu dijawab dengan memperkuat program pembinaan dan pemberdayaan warga binaan pemasyarakatan (WBP).
Wakil Ketua Umum PP Jaringan Muda Indonesia (JMI) Hadi Roesmanto mengatakan, WBP dapat diberikan pelatihan di sektor pertanian dan kegiatan produktif lainnya sehingga tidak hanya menjadi beban negara selama menjalani masa pidana.
“Kita bisa menjadikan warga binaan bermanfaat. Mereka harus dilatih dan dibekali untuk mendukung program ketahanan pangan pemerintah. Selama menjalani hukuman mereka bisa juga diajari untuk bertani dan bercocok tanam, menggarap sawah dan ladang agar swasembada pangan segera terwujud,” ujar Hadi, Kamis (24/9/2026).
Senada, Ketua Tunas Indonesia Raya Kota Serang Rafli Maulana menilai lapas sudah saatnya tidak hanya berorientasi pada efek jera, tetapi juga menjadi ruang edukasi dan pemberdayaan.
Menurut Rafli, warga binaan perlu dibekali keterampilan agar memiliki modal ketika kembali ke masyarakat.
“Hukum hari ini harus mendidik, bukan hanya membuat jera. Kalau orang keluar dari lapas tanpa keterampilan, kita hanya memindahkan masalah dari dalam tembok ke tengah masyarakat,” katanya.
Ia menyebut program pembinaan di bidang ketahanan pangan sudah menunjukkan hasil. Hingga Agustus 2026, sebanyak 1.021 warga binaan telah memperoleh sertifikasi keterampilan bidang ketahanan pangan.
Sementara itu, Ketua Umum DPP Gerakan Anti Narkoba Nasional (GANNAS) I Nyoman Adi Peri, SH, menyatakan pihaknya siap mendukung pembinaan melalui pelatihan keterampilan di Balai Latihan Kerja (BLK).
“GANNAS siap memberikan pelatihan keterampilan di BLK bagi penyalahguna dan pecandu yang divonis pidana. Pelatihan ini kami fokuskan untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Kami juga siap bekerja sama dengan lapas seluruh Indonesia,” ujarnya.
Baca Juga: Bukan Hanya Membuat Jera, Lapas Diharapkan Jadi Ruang Edukasi Sesuai dengan KUHP Baru
Sherly dari Lembaga Kajian Daun Teduh menambahkan, program pemberdayaan WBP harus diarahkan pada keterampilan yang benar-benar bisa digunakan setelah mereka bebas.
“Pembinaan tidak cukup hanya selama berada di dalam lapas. Harus ada kesinambungan dengan kehidupan setelah mereka kembali ke masyarakat. Keterampilan di sektor produktif, termasuk pertanian, bisa menjadi bekal agar mereka mampu mandiri dan kembali berkontribusi,” ujar Sherly.
Menurutnya, pelibatan WBP dalam kegiatan produktif dapat menjadi bagian dari upaya membangun sistem pemasyarakatan yang lebih berorientasi pada pembinaan, kemandirian, dan reintegrasi sosial.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: