Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rudal Houthi dan Ancaman ke Mekah: Mengapa Saudi Siaga?

Oleh: Wahyu Muryadi - Wartawan Senior

Rudal Houthi dan Ancaman ke Mekah: Mengapa Saudi Siaga? Kredit Foto: Reuters/Ali Owidha
Warta Ekonomi, Jakarta -

DEBU berputar di antara dinding-dinding bata lumpur kuno yang menyerupai jahe raksasa. Di bawah langit Sana’a, kota tua Yaman yang dipanggang matahari, sebuah nyanyian—mungkin juga jeritan—berirama sarkha membahana dari corong pengeras suara masjid. Suaranya memantul di antara labirin batu, lalu masuk ke sanubari para pemuda berkalung senapan panggul.

Mereka menggunakan retorika perlawanan dengan memanfaatkan sentimen keagamaan yang agresif. Teriakan yang kerap dikumandangkan berbunyi, “Allahu Akbar, al-Maut li-Amrika, al-Maut li-Israil, al-La’nah ala al-Yahud, an-Nashr lil Islam.” Artinya: “Kematian bagi Amerika, kematian bagi Israel, kutukan bagi Yahudi, kemenangan bagi Islam.”

Slogan ini dicetuskan pendiri gerakan Houthi, Hussein Badreddin al-Houthi, pada awal 2000-an sebagai manifesto perlawanan terhadap imperialisme Barat dan apa yang mereka pandang sebagai proyek neokolonialisme di Timur Tengah. Dalam pandangan kepemimpinan Houthi, dinasti Saud yang menguasai Arab Saudi juga dipandang sebagai perpanjangan tangan imperialisme Barat yang harus dilawan.

Di balik bait-bait yang menggelegar ke arah ufuk barat itu, ada ancaman yang belakangan terasa jauh lebih dekat.

Bagi milisi Houthi, tabung besi panjang yang perlahan terangkat ke angkasa itu bukan sekadar senjata, melainkan kepak sayap takdir. Bayang-bayang peluru kendali atau rudal menusuk langsung ke jantung iman miliaran umat manusia: kota suci Mekah.

Kelompok Ansar Allah, yang lebih dikenal sebagai Houthi, bukan sekadar milisi gurun berpakaian tradisional thobedengan belati jambiya terselip di pinggang. Mereka adalah anak-anak gunung dari wilayah Sa’dah yang bertransformasi menjadi kekuatan geopolitik di Laut Merah.

Gerakan ini awalnya lahir pada 1990-an. Semula ia dikenal sebagai gerakan kebangkitan teologis dan kultural kaum Zaidiyah, salah satu cabang Syiah. Kini, Houthi telah berkembang menjadi kelompok bersenjata yang memiliki kemampuan rudal dan sistem nirawak.

Di bawah kepemimpinan Abdul-Malik al-Houthi, mereka bukan hanya menantang pemerintah Yaman, tetapi juga melampaui batas wilayah hingga berhadapan langsung dengan Arab Saudi.

Bagi Arab Saudi, dan bagi dunia Islam pada umumnya, ancaman Houthi terhadap wilayah barat daya kerajaan bukan sekadar persoalan pertahanan perbatasan. Pertikaian ini bukan lagi semata perebutan pengaruh antara Riyadh dan Teheran. Ketika ancaman mulai mendekati wilayah Hijaz, persoalannya menyentuh dimensi yang jauh lebih sensitif: keamanan kota-kota suci.

Apalagi ketika target-target serangan mulai dipersepsikan bergeser dari instalasi minyak seperti Aramco menuju wilayah yang lebih dekat dengan Hijaz. Narasi perang pun berubah. Garis imajiner yang ditarik dari peluncur rudal di pegunungan Yaman utara menuju Mekah dipenuhi kecemasan geopolitik sekaligus teologis.

Ketika Rudal Mendekati Mekah

Sejarah konflik Yaman mencatat beberapa kali sistem pertahanan udara Arab Saudi harus mencegat proyektil yang diluncurkan dari wilayah Yaman dan mengarah ke wilayah kerajaan.

Ingatan publik dunia Islam kembali pada Oktober 2016 dan Juli 2017. Ketika itu, militer Arab Saudi menyatakan telah mencegat rudal balistik Burqan yang diluncurkan dari wilayah Yaman. Koalisi yang dipimpin Saudi menyatakan rudal-rudal tersebut diarahkan menuju Mekah.

Houthi memberikan versi berbeda. Mereka membantah bahwa Mekah merupakan sasaran serangan dan menyatakan bahwa target mereka adalah fasilitas militer atau infrastruktur tertentu di wilayah Saudi.

Perbedaan klaim itu penting. Sebab dalam perang, sebuah rudal bukan hanya persoalan koordinat. Ia juga membawa pesan politik.

Dalam kalkulasi perang asimetris, kemampuan mengancam wilayah vital di dekat Mekah dapat menjadi instrumen untuk mengguncang legitimasi Arab Saudi sebagai negara yang menyandang gelar Khadim al-Haramain ash-Syarifain, Pelayan Dua Kota Suci.

Jika keamanan langit Mekah dipersepsikan tidak lagi terjamin, dampaknya tidak berhenti pada persoalan militer. Ia menyentuh wibawa politik dan simbolik kerajaan.

Geopolitik Timur Tengah memang kerap menjebak kesucian dalam kalkulasi yang profan.

Rudal jelajah dan drone yang digunakan Houthi, termasuk berbagai varian yang dikenal sebagai Qasef dan Samad, telah menunjukkan kemampuan menjangkau sasaran yang jauh dari wilayah asalnya. Kemampuan tersebut juga kerap dikaitkan dengan dukungan teknologi dari Iran, meskipun detail mengenai rantai pasok dan tingkat dukungan menjadi bagian dari perdebatan dalam konflik tersebut.

Bagi Arab Saudi, konsekuensinya adalah kebutuhan untuk mempertahankan kesiagaan udara dalam jangka panjang.

Setiap sirene peringatan udara yang berbunyi di kota-kota seperti Jazan atau Najran membawa satu kecemasan yang sama: sejauh mana sistem pertahanan mampu menjaga wilayah kerajaan dari ancaman yang datang dari selatan?

Dan kecemasan terbesar bukan semata kehancuran fisik Ka'bah.

Melainkan hilangnya rasa aman di tempat yang selama berabad-abad dipandang sebagai ruang perlindungan dan ibadah.

Perang yang Menyentuh Kesucian

Di bawah temaram lampu menara Masjidil Haram, ancaman itu terasa seperti bayangan panjang yang enggan pergi.

Perang di Yaman, dengan kelaparan dan tragedi kemanusiaannya, telah melahirkan trauma yang melampaui batas negara. Mekah, yang sepanjang sejarahnya juga pernah mengalami berbagai konflik, kini harus berhadapan dengan bentuk ancaman yang berbeda: rudal dan drone yang dapat dikendalikan dari jarak ratusan kilometer.

Kelompok Houthi, setiap kali serangan menuju utara dilancarkan, menyatakan bahwa sasaran mereka adalah fasilitas militer atau infrastruktur tertentu di Arab Saudi. Dalam beberapa kasus, mereka menyebut Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah sebagai sasaran.

Bagi Houthi, tuduhan bahwa mereka menyerang tanah suci merupakan propaganda Riyadh untuk menggalang sentimen dunia Islam melawan mereka.

Namun dalam perang modern, jarak antara sasaran militer dan wilayah sipil bisa menjadi persoalan yang sangat serius.

Jeddah memang bukan Mekah. Tetapi bagi sebuah wilayah yang menjadi pintu masuk utama jutaan jemaah menuju kota suci, setiap serangan di sekitarnya membawa konsekuensi keamanan dan psikologis yang jauh lebih besar daripada sekadar kerusakan fasilitas.

Bayangkan sebuah fajar yang tenang di kota suci. Suara zikir masih menggantung rendah di udara ketika tiba-tiba sirene pertahanan udara memecah keheningan.

Dampaknya mungkin bukan hanya pada bangunan yang terkena serpihan.

Ketakutan dapat bergerak lebih cepat daripada rudal.

Ia menyebar dari satu layar telepon ke layar lainnya, dari satu hotel ke hotel lain, dari satu keluarga jemaah kepada keluarga lainnya.

Dan ketika ketakutan memasuki kota suci, persoalannya segera menjadi persoalan dunia Islam.

Mekah di Tengah Bidak Catur Geopolitik

Ancaman Houthi terhadap Arab Saudi juga tidak dapat dilepaskan dari pertarungan pengaruh regional.

Di Riyadh, Houthi selama bertahun-tahun dipandang sebagai bagian dari jaringan pengaruh Iran di kawasan. Teheran sendiri menjadi salah satu aktor yang dikaitkan dengan dukungan kepada kelompok tersebut.

Yaman kemudian menjadi salah satu arena dalam persaingan geopolitik yang lebih luas.

Houthi terus mengembangkan kapasitas persenjataan mereka. Drone yang relatif murah dapat diubah menjadi senjata serang. Roket dan rudal dikembangkan untuk mencapai sasaran yang lebih jauh dan lebih presisi.

Dalam permainan itu, Mekah secara tidak langsung berada di posisi yang sangat sensitif.

Bayangkan amarah sebuah kota yang seharusnya menjadi simbol kedamaian dan pelarian dari keduniawian, tetapi harus dilindungi oleh baterai rudal pencegat dan radar yang terus berputar.

Arab Saudi mencoba membentengi langitnya dengan berbagai sistem pertahanan udara, termasuk Patriot buatan Amerika Serikat.

Konflik ini juga melempar ingatan pada 1979. Ketika itu, Masjidil Haram dikuasai kelompok bersenjata yang dipimpin Juhayman al-Otaybi. Pertumpahan darah terjadi di tempat yang dalam ajaran Islam memiliki kesucian khusus.

Ingatan terhadap peristiwa tersebut membuat keamanan Mekah dan Madinah menjadi persoalan yang sangat sensitif bagi Arab Saudi.

Kini, ancamannya datang dalam bentuk yang berbeda.

Bukan kelompok bersenjata yang memasuki halaman Masjidil Haram, melainkan kemungkinan ancaman yang datang dari langit.

Ketegangan itu sekaligus menjadi daya tawar politik bagi Houthi. Pesan yang ingin mereka sampaikan sederhana: kemampuan menjangkau wilayah yang dianggap vital dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa mereka mampu menyentuh sesuatu yang sangat berharga bagi lawannya.

Pada malam hari di perbatasan Yaman-Saudi, ketegangan itu terasa pekat seperti kabut gurun.

Di satu sisi, para pejuang Houthi bersiap di bawah bayang-bayang pegunungan. Di sisi lain, tentara Saudi menatap layar radar di ruang kontrol yang steril.

Teknologi bertemu ideologi.

Rudal bertemu radar.

Dan di tengah benturan itu, Mekah tetap berdiri.

Anggun dan tenang dalam balutan batu hitamnya. Ka'bah terus dikelilingi manusia yang thawaf, berdoa, larut dalam zikir dan air mata memohon keselamatan.

Bagi para jemaah, kontras itu melahirkan ketegangan yang janggal.

Mereka bersujud pasrah di hadapan Tuhan, sembari menyadari bahwa di atas langit mereka, perisai rudal sedang bekerja keras menjaga nyawa dari kepulan asap perang Yaman.

Di tempat yang seharusnya menjadi ruang paling hening untuk berdoa, suara perang justru bisa datang dari langit.

Dan ketika sebuah rudal diarahkan ke kota suci, yang dipertaruhkan bukan hanya sebuah sasaran militer.

Yang dipertaruhkan adalah rasa aman miliaran manusia terhadap tempat yang mereka anggap suci.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: