Kredit Foto: Freepik/VecMes
Nikel lagi-lagi jadi mesin utama PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA). Bukan cuma produksi yang naik, laba bersih perusahaan ikut melesat hingga 830% pada semester I 2026 menjadi US$54 juta, dari US$6 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Lonjakan laba tersebut datang ketika produksi bijih nikel MBMA ikut tancap gas. Sepanjang enam bulan pertama 2026, produksi bijih nikel mencapai 15,2 juta wet metric tonnes (wmt), naik 121% dibandingkan semester I 2025 yang hanya 6,9 juta wmt.
Bukan cuma produksinya yang naik. Penjualan bijih nikel juga tumbuh 60% menjadi 12,4 juta wmt, terdiri dari 8,2 juta wmt limonit dan 4,2 juta wmt saprolit. Kenaikan ini ditopang oleh utilisasi peralatan yang lebih tinggi, pengangkutan yang lebih efisien, dan produktivitas tambang yang ikut terdongkrak.
Efeknya terasa langsung ke kantong perusahaan. Pendapatan MBMA sepanjang semester I 2026 mencapai US$1,05 miliar atau naik67%secara tahunan. EBITDA bahkan melonjak 306% menjadi US$311 juta, jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan.
Kalau ditarik lebih dalam, bukan cuma bisnis tambang yang ikut mengangkat kinerja. Kontribusi NPI dan High-Grade Nickel Matte (HGNM) juga makin besar. Produksi dan penjualan NPI naik 20%, sementara produksi HGNM meningkat lebih dari dua kali lipat.
Kinerja pengolahan yang makin stabil ikut menjadi penopang. MBMA menyebut kenaikan produksi NPI terjadi setelah kegiatan pemeliharaan pada 2025 selesai, sehingga operasi tungku menjadi lebih stabil.
Presiden Direktur MBMA Teddy Oetomo mengatakan kenaikan volume tambang dan perbaikan pengolahan menjadi faktor penting di balik lonjakan laba perusahaan. Menurutnya, MBMA akan menjaga momentum tersebut melalui efisiensi dan penguatan operasi.
“Peningkatan volume penambangan dan kinerja pengolahan yang lebih baik telah mendorong peningkatan laba secara signifikan,” ujar Teddy yang dikutip di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Menariknya, MBMA belum berhenti di bisnis nikel yang sudah berjalan. Perusahaan juga sedang memperlebar pijakan ke material baterai. Produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) di PT ESG New Energy Material terus dinaikkan setelah proses pemeliharaan dan perpindahan area penyimpanan tailing rampung.
Baca Juga: Ledakan Hilirisasi Nikel Picu Lonjakan PLTU Captive Batu Bara RI
Baca Juga: Tambang Nikel RI Mulai Beralih ke Elektrifikasi, Ini Alasannya
Di sisi lain, PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) masih menjalani tahap commissioning. Prosesnya mencakup energization, pengangkutan bijih, hingga uji coba awal pengumpanan bijih. Produksi SLNC diperkirakan dimulai pada semester II 2026 dan kemudian dinaikkan secara bertahap menuju operasi penuh pada akhir tahun.
Dengan produksi tambang yang lebih besar dan bisnis pengolahan yang makin ramai, MBMA memasuki paruh kedua 2026 dengan sumber pendapatan yang lebih beragam. Perusahaan berharap kontribusi material baterai nantinya bisa melengkapi bisnis tambang dan pengolahan nikel yang sudah berjalan.
Namun, laju bisnis ini tetap punya ganjalan. MBMA masih mencermati pergerakan harga komoditas serta konsumsi bahan bakar yang bisa ikut mengerek biaya. Karena itu, perusahaan menyatakan tetap menjaga disiplin biaya dan efisiensi operasional sampai akhir 2026.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: