SyaREA World Ingatkan Pengusaha: Jangan Sampai AI Hilangkan Jati Diri dan Keamanan Bisnis
Kredit Foto: Ist
Ekspansi Artificial Intelligence (AI) di dunia bisnis tak sekadar membawa efisiensi, tetapi juga ancaman fatal jika tidak dikendalikan.
SyaREA World (SW) mengingatkan para pemilik bisnis agar tidak kehilangan jati diri dan arah strategis perusahaan karena terlalu bergantung pada teknologi kecerdasan buatan.
Peringatan ini menjadi sorotan utama dalam workshop "AI for Business Owners" yang digelar SyaREA World bagi sekitar 50 pengusaha Muslim di IPB International Convention Center, Bogor, pekan lalu.
Founder SyaREA World, Syamsul Safin, menyebut workshop ini sebagai "misi penyelamatan" agar pengusaha tidak terjebak dalam labirin eksplorasi tools AI tanpa arah.
Penggunaan AI yang seragam dan hanya mengandalkan prompt generik dinilai berisiko meniadakan diferensiasi bisnis. Akibatnya, produk maupun konten perusahaan menjadi pasaran dan mudah terjebak dalam perang harga.
"Perang harga tidak pernah dimenangkan oleh yang kecil. Yang bertahan adalah yang bermodal paling dalam. Margin yang tergerus akan mematikan kemampuan bertumbuh," tegas Syamsul.
Selain ancaman bisnis generik, SyaREA World juga menyoroti kerentanan keamanan siber, terutama ketika perusahaan mulai mengintegrasikan AI Agent dengan data internal.
Ancaman seperti pencurian data, manipulasi perintah terselubung (indirect prompt injection), hingga kebocoran API key sangat nyata.
Risiko ini sejalan dengan peringatan National Institute of Standards and Technology (NIST) serta laporan Microsoft Work Trend Index 2025, yang mencatat bahwa 78 persen pekerja menggunakan tools AI pribadi di tempat kerja (Bring Your Own AI). Tanpa tata kelola yang kuat, tren ini membuka celah besar bagi kebocoran informasi sensitif perusahaan.
Ancaman psikologis juga menjadi perhatian SW. Syamsul mengingatkan bahaya "halusinasi kepintaran", sebuah kondisi yang ia nilai lebih buruk dari efek Dunning-Kruger.
"Kalau pada efek Dunning-Kruger orang tahu sedikit sudah merasa tahu banyak. Kalau dengan AI, orang yang sebenarnya tidak tahu apa-apa, langsung merasa tahu segalanya hanya karena berhasil mendapat jawaban dari mesin. Ini sangat berbahaya kalau diterapkan dalam pengambilan keputusan bisnis," paparnya.
Menyikapi berbagai risiko tersebut, Syamsul menekankan bahwa pemilik bisnis tidak perlu memaksakan diri menjadi ahli teknis AI.
Pengusaha cukup memahami AI sebatas pada keselarasan dengan visi, misi, nilai inti, dan arsitektur strategi perusahaan, sementara eksekusi teknisnya diserahkan kepada tim dengan pengawasan ketat.
AI, lanjutnya, harus diposisikan secara proporsional sebagai sparring partner strategis untuk mempercepat analisis dan menguji keputusan. Namun, kendali penuh dan keputusan akhir terkait arah bisnis harus tetap murni di tangan manusia.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: