Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tekstil RI Makin Tertinggal, Investasi Terancam Sia-sia Tanpa Modernisas

Tekstil RI Makin Tertinggal, Investasi Terancam Sia-sia Tanpa Modernisas Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Revitalisasi industri tekstil nasional tidak cukup hanya menghidupkan kembali kapasitas produksi. Di tengah persaingan global dan perubahan rantai pasok, pembaruan mesin, teknologi, serta efisiensi produksi menjadi pekerjaan yang perlu dibenahi agar industri tekstil Indonesia kembali memiliki daya saing.

Persoalan tersebut menjadi penting ketika investasi mulai diarahkan untuk menguatkan kembali sektor tekstil. Penambahan kapasitas produksi tanpa diikuti peningkatan produktivitas berisiko membuat investasi tidak memberikan perubahan signifikan terhadap daya saing industri.

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Sarlina Sari mengatakan revitalisasi industri tekstil perlu diarahkan pada perubahan struktur produksi, bukan sekadar menambah kapasitas.

Menurut dia, investasi yang masuk seharusnya menghasilkan perbaikan produktivitas, efisiensi, kualitas produk, inovasi, serta membuka akses yang lebih luas ke pasar ekspor.

“Investasi di industri tekstil tidak cukup hanya mengejar penambahan kapasitas produksi. Dana yang masuk harus mampu menghasilkan perbaikan produktivitas, efisiensi, kualitas produk, inovasi dan akses ke pasar global,” ujar Sarlina dalam keterangannya dikutip Senin (28/9/2026).

Industri tekstil sendiri memiliki posisi penting dalam rantai manufaktur nasional karena keterkaitannya tidak berhenti pada kegiatan produksi. Sektor ini juga menyerap tenaga kerja dan menggerakkan berbagai industri pendukung di sejumlah daerah.

Namun, industri tekstil menghadapi tekanan dari berbagai arah. Persaingan internasional, kenaikan biaya produksi, perubahan permintaan, serta kebutuhan pembaruan mesin membuat industri perlu melakukan penyesuaian agar tidak tertinggal dari pemain di negara lain.

Karena itu, perhatian pemerintah terhadap revitalisasi tekstil dinilai perlu dibarengi strategi investasi jangka panjang. Modernisasi teknologi menjadi salah satu bagian yang menentukan apakah revitalisasi tersebut hanya mengembalikan kapasitas lama atau benar-benar meningkatkan kemampuan industri.

Sarlina menilai Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dapat berperan dalam mendorong investasi jangka panjang di sektor strategis, termasuk tekstil. Namun, dukungan tersebut perlu diarahkan pada proyek yang memberikan perubahan terhadap kemampuan industri.

“Danantara memiliki posisi strategis dalam mendorong investasi jangka panjang yang dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia. Dukungan terhadap industri tekstil akan semakin berarti apabila diarahkan pada modernisasi teknologi, penguatan rantai pasok, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pengembangan pasar ekspor,” jelasnya.

Dengan pendekatan tersebut, revitalisasi industri tekstil tidak hanya berbicara mengenai berapa banyak mesin atau fasilitas produksi yang kembali beroperasi. Ukuran lainnya adalah seberapa besar produktivitas meningkat dan seberapa efisien industri menghasilkan produk yang mampu bersaing.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Modernisasi mesin dan teknologi membutuhkan tenaga kerja yang mampu mengoperasikan, memelihara, sekaligus mengembangkan proses produksi baru.

Di sisi pasar, kemampuan industri untuk meningkatkan ekspor juga menjadi indikator penting. Industri tekstil tidak hanya perlu mempertahankan pasar yang sudah ada, tetapi juga menyesuaikan produk dengan perubahan permintaan dan standar pasar global.

Baca Juga: Kemenperin Buka Akses Modal, Industri Halal RI Didorong Kuasai Pasar Ekspor

Baca Juga: Otomotif RI Masih Tertinggal, Kemenperin: Kepemilikan Kendaraan Jauh di Bawah Malaysia

Baca Juga: Pasar Halal RI Hampir Rp6.000 Triliun, Menperin: Industri Lokal Jangan Cuma Jadi Pasar

Menurut Sarlina, keberhasilan revitalisasi karena itu tidak cukup dinilai dari nilai investasi yang masuk. Produktivitas, ekspor, penyerapan tenaga kerja, efisiensi produksi, kualitas produk, hingga keberlanjutan industri perlu menjadi ukuran.

“Setiap proyek investasi perlu memiliki indikator kinerja yang jelas sehingga hasil dan dampaknya dapat dipantau secara transparan,” katanya.

Indikator tersebut antara lain dapat mencakup peningkatan produktivitas, pertumbuhan ekspor, penyerapan tenaga kerja, penguatan industri pendukung, peningkatan daya saing produk, serta kontribusi terhadap perekonomian nasional.

Revitalisasi juga membutuhkan pembenahan yang lebih luas, mulai dari teknologi, tata kelola, pembiayaan, rantai pasok, inovasi hingga pengembangan pasar. Dengan begitu, investasi yang masuk tidak berhenti pada pemulihan produksi, tetapi mendorong perubahan kemampuan industri dalam jangka panjang.

Sarlina mengatakan proses tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, Danantara, pelaku industri, perguruan tinggi, lembaga keuangan, dan tenaga kerja.

“Industri tekstil Indonesia perlu bergerak menuju industri yang lebih produktif, berbasis teknologi, inovatif, efisien dan memiliki daya saing global,” ungkapnya.

Dengan demikian, revitalisasi tekstil dapat menjadi momentum untuk memperbarui fondasi industri nasional. Tantangannya bukan hanya membuat pabrik kembali berproduksi, tetapi memastikan teknologi, produktivitas, kualitas, tenaga kerja, dan akses pasar ikut bergerak maju.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan

Tag Terkait: