Pelatihan Militer untuk Sipil Dinilai Sudah Tidak Relevan Lagi di Era Teknologi dan Inovasi
Kredit Foto: Ist
Kasus meninggalnya seorang siswa Komponen Cadangan (Komcad) Aparatur Sipil Negara (ASN) Gelombang 2 di Pusdikkes Puskesad akibat terjatuh saat gladi penutupan memicu kritik tajam.
Peneliti militer senior, Made Supriatma, melontarkan kecaman keras atas kebijakan yang mewajibkan ASN mengikuti pelatihan militer.
Melalui pernyataan terbuka, Made mempertanyakan relevansi dan urgensi pelatihan militer bagi para pegawai negeri di tengah modernisasi pola pertahanan global saat ini.
"Sampai kapan? Mengapa hanya untuk menjadi pegawai negara, orang harus menjalani pelatihan militer? Apakah tidak cukup satu juta lebih tentara di negeri ini? Setengah juta polisi bersenjata? Jutaan paramiliter seperti Hansip atau Wanra?" tegas Made dalam keterangannya, Senin (28/9).
Dalam kritiknya, ia menyoroti bahwa pertahanan saat ini tidak lagi bergantung pada baris-berbaris atau kekuatan fisik semata, melainkan pada penguasaan teknologi, inovasi, kemampuan pemrograman, serta kebebasan berpikir, seperti yang terlihat dalam konflik modern di Ukraina.
Menurutnya, kebijakan militerisasi ini membatasi ruang gerak anak muda dan membunuh bakat-bakat potensial yang seharusnya bisa berkembang di bidang lain.
Made berpandangan bahwa negara yang kuat lahir dari masyarakat sipil yang produktif, mampu mengembangkan usaha, menggerakkan ekonomi, dan membayar pajak, bukan dari upaya memiliterisasi para pencipta kemakmuran tersebut.
Ia juga menyoroti bahaya penerapan disiplin kadaver atau kepatuhan total tanpa ruang untuk berpikir kritis yang dipaksakan kepada kaum sipil.
Menutup pernyataannya, Made Supriatma mendesak penghentian praktik pelatihan militer bagi kalangan sipil yang dinilai tidak esensial dan telah memakan korban jiwa, serta mengingatkan agar negara tidak mengorbankan masa depan talenta-talenta sipil demi melanggengkan pendekatan militeristik.
"Jangan bunuh para pencipta kemakmuran hanya untuk menegakkan rejim militeristik! Sudah berapa orang terbunuh hanya karena mereka harus menjalani pelatihan militer. Sampai kapan?" pungkasnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: