Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Hilirisasi RI Butuh Rp11.063 Triliun, Investasi Jumbo Jadi Tantangan hingga 2040

Hilirisasi RI Butuh Rp11.063 Triliun, Investasi Jumbo Jadi Tantangan hingga 2040 Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengungkap kebutuhan investasi mencapai US$618,1 miliar, atau setara Rp11.063,99 triliun (kurs Rp17.900 per dolar AS) untuk melakukan hilirisasi pada 28 komoditas strategis hingga 2040.

Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Heldy Satrya Putera, mengatakan perkembangan industri mineral kritis Indonesia memasuki fase baru setelah investasi mengalir ke pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter).

"Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM telah menyusun peta jalan pengembangan industri hilir yang mencakup 28 komoditas strategis, dengan estimasi kebutuhan investasi mencapai US$618,1 miliar hingga 2040, dan sektor mineral dan batu bara menjadi salah satu peluang terbesar dalam peta jalan ini," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (30/9/2026).

Menurut dia, pengembangan hilirisasi Indonesia saat ini bergerak melalui tiga tahapan strategis. Adapun selama ini, ia menyebut pemerintah telah membangun fondasi pengolahan mineral melalui smelter dan fasilitas pemurnian. 

"Saat ini, prioritas kita memasuki Tahap Dua, yaitu memperluas pengembangan ke industri baterai kendaraan listrik, Battery Energy Storage System (BESS), serta manufaktur bernilai tambah tinggi lainnya," imbuh Heldy.

Perubahan fokus tersebut terjadi ketika investasi hilirisasi Indonesia diklaim telah mencapai skala yang semakin besar. Pada semester I-2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun, setara 29,7% dari total realisasi investasi nasional dan tumbuh 6,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Dari nilai tersebut, penanaman modal asing mencapai Rp212,8 triliun atau 70,9%, sedangkan penanaman modal dalam negeri sebesar Rp87,3 triliun atau 29,1%.

"Dari capain tersebut dapat terlihat bahwa Indonesia telah mencatatkan kemajuan yang signifikan dalam mengembangkan industri hilirnya serta memiliki peluang luar biasa untuk memperkuat posisinya dalam rantai nilai mineral kritis global," kata Heldy.

Baca Juga: Batam Bidik Investasi Industri, 200 Teknologi Dipamerkan Pada Manufacturing Indonesia Series Batam Chapter 2026

Baca Juga: BKPM Obral Aturan Modal PMA, Syarat Rp10 Miliar Kini Bisa Bagi Banyak Titik SPKLU

Tahap selanjutnya adalah melanjutkan capaian tersebut dengan mendukung pasar yang kompetitif, menarik investasi jangka panjang, dan memastikan produk-produk Indonesia dapat memenuhi kebutuhan pembeli global yang terus berkembang.

Besarnya investasi yang telah masuk membuat pembahasan hilirisasi bergeser dari sekadar pembangunan fasilitas menuju bagaimana industri tersebut dapat menghasilkan produk yang kompetitif dan terhubung dengan pasar global.

Dalam konteks mineral kritis, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menilai persoalannya mencakup dari mana bahan baku diperoleh, berapa biaya pemrosesannya, bagaimana produk dihargai, siapa pembelinya, hingga standar apa yang harus dipenuhi untuk masuk ke pasar global.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Editor: Dian Ihsan