Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati diarahkan tidak hanya menjadi simpul transportasi udara, tetapi juga berkembang sebagai kawasan industri kedirgantaraan yang dapat menciptakan rantai ekonomi baru di Jawa Barat.
Arah pengembangan tersebut mengemuka dalam pertemuan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan Kementerian Pertahanan (Kemhan) di BIJB Kertajati. Pertemuan membahas rencana kerja sama pengelolaan BIJB Kertajati sebagai pusat industri strategis pertahanan dalam negeri.
Dedi Mulyadi mengatakan, pembahasan tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang. Kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemerintah pusat selanjutnya akan dituangkan dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS).
"Secara prinsip dasar bahwa kalau negara itu tidak ada pemisahan-pemisahan, semuanya adalah satu kesatuan. Tetapi dari aspek sisi administrasi, kita memiliki aspek pertanggungjawaban administrasinya masing-masing. Memiliki aset tercatatnya masing-masing. Memiliki utang piutangnya masing-masing," ujar Dedi, pada Minggu (4/10/2026).
Menurut Dedi, tahap awal pengembangan BIJB Kertajati tidak semata-mata diarahkan untuk mengejar aspek komersial atau tingkat keramaian bandara. Pemerintah ingin membangun fondasi ekosistem industri terlebih dahulu.
"Tahap pertama kita tidak berpikir komersial dulu, keramaian atau pertumbuhan, tetapi tahap pertama kita berpikir PTDI ada di sini kemudian MRO di sini, bengkel pesawat asing di sini, kemudian industri penunjang di sini," ungkapnya
Pengembangan ekosistem tersebut dinilai dapat membuka peluang terbentuknya rantai pasok industri kedirgantaraan di sekitar Kertajati. Kehadiran industri utama, fasilitas perawatan pesawat atau Maintenance, Repair and Overhaul (MRO), hingga industri pendukung berpotensi meningkatkan aktivitas perdagangan barang dan jasa.
Dedi mengatakan, ketika berbagai kebutuhan industri kedirgantaraan terkonsentrasi di BIJB Kertajati, aktivitas ekonomi secara bertahap akan berkembang melalui hubungan perdagangan antardaerah hingga antarnegara.
"Tidak mungkin semuanya lokal, pasti ada transfer antardaerah, transfer antarprovinsi, transfer antarnegara, pada akhirnya nanti kebutuhan komersialnya akan tumbuh," katanya.
Pengembangan BIJB Kertajati berpotensi menciptakan efek berganda terhadap perekonomian Jawa Barat. Ekosistem industri yang terbentuk dapat mendorong kebutuhan terhadap jasa logistik, transportasi, manufaktur komponen, pemeliharaan pesawat, hingga berbagai usaha pendukung lainnya.
Sementara itu, Kepala Badan Logistik Pertahanan Kemhan Marsekal Madya TNI Yusuf Jauhari mengatakan, langkah-langkah kerja sama tersebut telah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto dan mendapatkan tanggapan positif.
Dalam tahap awal, pemerintah berencana memindahkan sekolah penerbang Angkatan Udara beserta mess-nya di Sukani ke kawasan Kertajati. Selain itu, Skuadron Udara juga direncanakan dipindahkan dari Bandara Halim Perdanakusuma ke BIJB.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Dinilai Lakukan Blunder Putuskan Sepihak Proyek Data Center
"Kami berharap di bulan Januari pembangunannya. Sekolah penerbangan November atau Desember jika diizinkan, agar ada kegiatan," kata Yusuf.
Pengembangan tersebut juga mencakup PT Dirgantara Indonesia (PTDI) beserta perusahaan yang bekerja sama dengan industri kedirgantaraan tersebut.
Masuknya aktivitas pendidikan penerbangan, operasional skuadron, PTDI, MRO, serta industri penunjang secara bertahap berpotensi membentuk klaster industri kedirgantaraan di Kertajati.
Bagi Jawa Barat, pembentukan klaster tersebut dapat memperluas fungsi BIJB dari sekadar infrastruktur transportasi menjadi salah satu basis kegiatan industri strategis nasional. Dalam jangka panjang, aktivitas tersebut berpotensi memperkuat rantai pasok, menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan transaksi ekonomi di kawasan sekitar Kertajati.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Dian Ihsan