Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Inalum Genjot Efisiensi Produksi Aluminium, Manfaatkan AI hingga Atasi Keretakan Anoda

Inalum Genjot Efisiensi Produksi Aluminium, Manfaatkan AI hingga Atasi Keretakan Anoda Kredit Foto: INALUM
Warta Ekonomi, Jakarta -

Efisiensi produksi menjadi salah satu fokus PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum dalam memperkuat kinerja industri aluminium. Perusahaan mengembangkan sejumlah inovasi, mulai dari optimalisasi proses peleburan hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung pengelolaan bisnis.

Salah satu inovasi yang dikembangkan berkaitan dengan optimalisasi parameter bath dalam proses peleburan aluminium. Pengendalian parameter tersebut ditujukan untuk memperbaiki proses produksi. Selain itu, terdapat inovasi pengaturan sudut eccentric counterweight untuk mengatasi persoalan keretakan anoda, komponen penting dalam proses peleburan aluminium.

Pengembangan teknologi juga merambah fungsi nonproduksi. Inalum mulai memanfaatkan AI untuk pemodelan keuangan perusahaan, sekaligus mengembangkan gagasan terkait energi dan keberlanjutan.

Berbagai inovasi tersebut dipamerkan dalam Transformation & Improvement Summit (TIS) 2026 yang digelar pada 3 November 2026. Forum ini menghimpun 119 karya dari 273 inovator di lingkungan Inalum Group, meningkat sekitar 63% dibandingkan tahun sebelumnya.

Direktur Utama Inalum Melati Sarnita mengatakan, inovasi perusahaan perlu diarahkan pada penerapan yang memberikan dampak nyata terhadap operasional, bukan sekadar menghasilkan gagasan atau memenangkan kompetisi.

“Keberhasilan inovasi yang sesungguhnya bukan ketika sebuah karya memenangkan kompetisi, tetapi ketika karya tersebut memberikan manfaat yang berkelanjutan. Jangan sampai ide terbaik kita hanya tersimpan sebagai dokumen,” ujar Melati dalam diskusi bersama media di Bogor, Jumat (6/11/2026).

Perluas Ruang Inovasi

Pada penyelenggaraan tahun ini, Inalum memperluas kategori inovasi dari dua menjadi empat, yakni Teknis Implementasi, Teknis Konseptual, Nonteknis, serta HSE & ESG.

Dari total 119 karya yang mengikuti penjurian, sebanyak 39 karya masuk kategori Teknis Implementasi, 40 karya Teknis Konseptual, 13 karya Nonteknis, dan 27 karya HSE & ESG. Pembagian tersebut mencakup inovasi yang berkaitan langsung dengan proses produksi hingga perbaikan sistem kerja dan pengelolaan perusahaan.

Baca Juga: Inalum Soroti Tarif Listrik PLN, Smelter Aluminium Butuh Harga Kompetitif

Baca Juga: Mati Listrik 2 Jam Bisa Bikin Inalum Rugi Ratusan Ribu Dolar

Partisipasi juga melibatkan anak usaha Inalum, yakni PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) dan PT Indonesia Aluminium Alloy (IAA). Salah satu rangkaian kegiatan bahkan dilaksanakan melalui TIS Goes to Borneo dengan proses penjurian di lingkungan BAI, Mempawah, Kalimantan Barat.

Dari seluruh karya yang masuk, 12 inovasi terpilih untuk mengikuti pameran poster, sedangkan delapan karya lainnya melaju ke babak final TIS 2026 di Kuala Tanjung, Sumatera Utara.

Jika dibandingkan dengan penyelenggaraan perdana pada 2004, jumlah peserta TIS terus bertambah. Saat itu, forum inovasi tersebut hanya diikuti sembilan inovator dengan enam karya. Pada 2026, jumlahnya meningkat menjadi 273 inovator dengan 119 karya, sekaligus menjadi partisipasi tertinggi sepanjang penyelenggaraan.

Melalui pengembangan inovasi tersebut, Inalum berupaya memperbaiki proses produksi dan pengelolaan bisnis sebagai bagian dari penguatan daya saing industri aluminium. Perusahaan merupakan anggota holding BUMN industri pertambangan MIND ID.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan