- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Inalum Soroti Tarif Listrik PLN, Smelter Aluminium Butuh Harga Kompetitif
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) menyoroti biaya listrik sebagai salah satu faktor penting dalam menjaga daya saing industri aluminium nasional. Hal ini menjadi perhatian perusahaan seiring rencana pengembangan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) fase 2 dan pembangunan smelter aluminium baru di Mempawah, Kalimantan Barat.
Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum, Arif Haendra, mengatakan industri aluminium membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar dengan harga yang kompetitif. Menurutnya, biaya energi menjadi salah satu komponen utama yang menentukan keekonomian proyek smelter.
Arif mengatakan Inalum berharap dapat memperoleh tarif listrik industri dari PT PLN (Persero) untuk mendukung pengembangan proyek hilirisasi aluminium.
"Kita berharap memperoleh tarif I4 dari PLN. I4 itu hari ini kurang lebih Rp997 per kWh," ujar Arif dalam diskusi, Jakarta, dikutip, Kamis (8/10/2026).
Namun, berdasarkan kajian kelayakan investasi yang dilakukan perusahaan, tarif listrik dari PLN yang diperhitungkan masih berada di atas asumsi awal.
"Tapi ternyata setelah kita jajaki FS kita selesai, tarif dari PLN itu ternyata Rp1.644 per kWh. Itu pun masih ada faktor N. N antara 1 sampai 1,5. Sehingga kalau N-nya 1 Rp1.644, kalau N-nya 1,5 berarti Rp2.400 lebih," kata Arif.
Menurut Arif, kebutuhan listrik menjadi tantangan karena industri aluminium merupakan sektor yang sangat intensif energi. Smelter aluminium dengan kapasitas produksi 600 ribu ton membutuhkan pasokan listrik sekitar 1 gigawatt (GW) dengan tingkat keandalan tertentu.
Besarnya kebutuhan energi tersebut menjadi perhatian Inalum dalam pengembangan proyek hilirisasi aluminium. Perusahaan saat ini tengah menyiapkan pengembangan SGAR fase 2 yang akan terintegrasi dengan pembangunan smelter aluminium baru.
Arif mengatakan SGAR fase 1 yang telah berjalan memiliki nilai investasi sekitar Rp15 triliun. Sementara pembangunan smelter aluminium baru dengan kapasitas 600 ribu ton per tahun membutuhkan investasi sekitar US$2,7 miliar atau sekitar Rp46 triliun.
"Smelternya itu 2,7 miliar dolar untuk kapasitas 600.000 ton. Sehingga kurang lebih dengan kurs hari ini Rp46 triliun," ujar Arif.
Di sisi lain, Inalum juga mempertimbangkan kebutuhan pembangkit listrik untuk mendukung proyek tersebut. Arif mengatakan apabila perusahaan membangun pembangkit sendiri dengan kapasitas sekitar 1,4 GW, investasi yang dibutuhkan mencapai sekitar US$2 miliar.
"Bayangkan membuat 1,4 gigawatt itu kurang lebih 2 miliar dolar. Artinya investasinya akan membengkak dari 2,7 menjadi 4,7. Sehingga IRR-nya itu akan turun," ungkap Arif.
Baca Juga: CBAM Eropa Mengintai Ekspor RI, Inalum Klaim Aluminium Sudah Hijau
Baca Juga: Inalum Buka Suara soal Rencana Akuisisi Tambang Bauksit Antam
Selain faktor biaya, Arif menekankan pasokan listrik untuk smelter aluminium juga harus memiliki tingkat keandalan tinggi. Gangguan listrik dapat berdampak besar terhadap operasional karena proses produksi aluminium tidak dapat dihentikan secara tiba-tiba.
"Smelter itu tidak mengizinkan listrik mati lebih dari 2 jam. Kalau mati satu pot itu membutuhkan 200.000 dolar untuk perbaikan," tandasnya.
Karena itu, Inalum berharap terdapat dukungan regulasi dan skema penyediaan listrik yang lebih fleksibel agar proyek strategis hilirisasi aluminium dapat berjalan dengan tetap menjaga daya saing industri.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: